Friday, 6 October 2017

10 Perilaku Ahlaq Utama Seorang Muslim

Di antaranya adalah: 
1. Jujur. 
2. Amanah. 
3. Menjaga kehormatan. 
4. Malu. 
5. Berani. 
6. Dermawan / murah hati. 
7. Setia. 
8. Menjauhkan diri dari semua yang diharamkan Allah. 
9. Baik kepada tetangga. 
10. Membantu orang yang membutuhkan sesuai kemampuan. 
Dan lain sebagainya, dari akhlak yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Monday, 2 October 2017

Contoh Amalan Amalan Yang Bisa Mendatangkan Syafaat di Hari Kiamat

Syafaat adalah hal besar yang diharapkan seorang mukmin dihari kiamat kelak. Syafaat adalah pertolongan dari Allah dan RasulNya ketika kita mengalami kesulitan di akhirat kelak. Syafaat itu bisa berbentuk bertambahnya catatan amal kebaikan maupun dihindarkan dari siksa neraka kelak. dan suatu yang tidak diragukan lagi dari sebab terbesar dan paling utama utama untuk mendapatkan syafaat adalah memurnikan tauhid dan keikhlasan kepada Allah SWT serta memurnikan al-ittibaa' (mengikuti dan meneladani) petunjuk Rasulullah saw

Selain itu, dalam hadits-hadist yang shahih Rasulullah saw menyebutkan beberapa amalan shalih yang bisa menjadi sebab untuk mendapatkan syafaat pada hari kiamat nanti, di antaranya:

1. Membaca al-Qur'an dengan merenungi kandungan maknanya. Seperti riwayat dari Abu Umamah al-Bahili ra bahwa Rasulullah saw bersabda,

اِقْرَؤُا اْلقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ
"Bacalah al-Qur'an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur'an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia)." ) Hadits shahih riwayat Muslim (no. 804).

2. Memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah setelah melaksanakan shalat-shalat yang wajib).

عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي زِيَادٍ ، عَنْ خَادِمٍ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَقُولُ : أَلَكَ حَاجَةٌ ؟ حَتَّى كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، حَاجَتِي ، قَالَ : وَمَا حَاجَتُكَ ؟ قَالَ : حَاجَتِي أَنْ تَشْفَعَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، قَالَ : وَمَنْ دَلَّكَ عَلَى هَذَا ؟ قَالَ : رَبِّي ، قَالَ : فَأَعِنِّي بِكَثْرَةِ السُّجُودِ.

"Dari Ziyad bin Abi Ziyad dari seorang pelayan laki-laki atau wanita , Rasulullah saw berkata : Pada suatu hari Rasulullah saw bertanya : "Apa kamu memiliki keperluan?", Dia menjawab: Aku memiliki keperluan. Lalu Rasulullah bertanya : "Apa keperluanmu?, Dia menjawab :"Keperluanku adalah agar engkau (wahai Rasulullah saw) memberi syafaat bagiku pada hari Kiamat." Maka, Rasulullah saw bersabda, "Bantulah aku (untuk keperluanmu itu) dengan memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah)." ) Ahmad (3/500), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 2102).

3. Banyak berpuasa, baik yang wajib maupun yang sunnah/ anjuran. Seperti dalam riwayat dari 'Abdullah bin 'Amr bin 'al-'Ash ra bahwa Rasulullah saw bersabda :

الصِّيَامُ وَ اْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَقُوْلَ الصِّيَامُ : رِبِّ إِنِّي مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّرابَ بِالنَّهَارَ فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ رَبِّ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ ، فَيَشْفَعَانِ.

"Puasa dan al-Qur'an akan memberikan syafaat pada hari kiamat bagi seorang hamba (yang mengamalkannya). Puasa berkata, 'Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.'. (Bacaan) al-Qur'an (juga) berkata, 'Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.'" Rasulullah r bersabda, "Maka, keduanya pun diizinkan memberi syafaat." ) Imam Ahmad (2/174), Abu Nu'aim dalam Hilayatul Auliyaa' (8/161) dan al-Hakim (1/740), dari dua jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Tamaamul Minnah (hal. 394).(

4. Tinggal di kota Madinah Al Munawwarah, bersabar atas kesusahannya dan meninggal dunia di sana.

Ini disebutkan dalam beberapa hadits shahih diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda :
مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ مَاتَ بِهَا

"Barangsiapa yang mampu meninggal di Madinah maka lakukanlah, karena sesungguhnya aku akan memberikan syafaat bagi mereka yang meninggal di dalamnya." ) Di antaranya hadits shahih riwayat Muslim (no. 1374 dan 1377), juga hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 3917), Ibnu Majah (no. 3112), Ahmad (2/74) dan Ibnu hibban (no. 3741), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Albani.

5. Membaca shalawat kepada Rasulullah saw dan meminta al-wasiilah untuk beliau (seperti yang diucapkan pada doa setelah mendengar azan selesai dikumandangkan).

Seperti dalam hadist yang shahih dari Abdullah bin Amr bin 'Ash t berkata, Rasulullah r bersabda :
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
"Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kalian kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali maka Allah I akan membalasnya sepuluh kali kepadanya, kemudian mintalah kepada Allah I wasilah untukku, karena sesungguhnya ia itu adalah kedudukan yang tinggi di surga, yang tidak pantas (ditempati) kecuali oleh seorang hamba dari para hamba-hamba Allah I. Dan aku berharap akulah hamba tersebut. Barangsiapa yang memohon wasiilah untukku, maka dia berhak (mendapatkan) syafaatku." (Shahih mukhtashar Muslim no : 198, Muslim 1/288, Aunul Ma'bud 2/225 dan selainnya).

6. Jenazah yang dishalatkan oleh empat puluh orang ahli tauhid. Dari Abdullah bin 'Abbas ra beliau berkata, "Sungguh aku mendengar Rasulullah saw bersabda :
مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلاً لاَ يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ
"Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/ mengabulkan syafaat mereka terhadapnya." (Muslim 2242)

nah itu dia amalan amalan yang bisa mendatangkan syafaat semoga kita termasuk orang yang mengamalkannya.
sumber : darussunah.com

Sunday, 1 October 2017

Apa Sebenarnya Tujuan PKI Melakukan Pemberontakan?

Hari ini 30 September mengingatkan kita pada sebuah peristiwa bersejarah Gerakan 30 September S PKI. 
berikut ini adalah tujuan PKI melakukan  pemberontakan :
1.  Bahwa Gerakan 30 September adalah perbuatan PKI dalam rangka usahanya untuk merebut kekuasaan di negara Republik Indonesia dengan memperalat oknum ABRI sebagai kekuatan fisiknya, untuk itu maka Gerakan 30 September telah dipersiapkan jauh sebelumnya dan tidak pernah terlepas dari tujuan PKI untuk membentuk pemerintah Komunis.

2.  Bahwa tujuan tetap komunis di Negara Non Komunis adalah merebut kekuasaan negara dan mengkomuniskannya.

3.  Usaha tersebut dilakukan dalam jangka panjang dari generasi ke generasi secara berlanjut.
a
4.  Selanjutnya bahwa kegiatan yang dilakukan tidak pernah terlepas dari rangkaian kegiatan komunisme internasional. Inti dari semua itu adalah Membentuk indonesia sebagai negara komunis seperti cina dan rusia,

Thursday, 28 September 2017

Sadarlah Kaum Muslimin, Dunia Sedang Dikuasai Kegelapan

Saat kita masih kanak-kanak, kita sering mendengar apa yang disampaikan remaja mesjid bahwa "Rasulullah saw menggulung tikar Dzulumat (kegelapan), dan menggelar sajadah Nur (cahaya)". Ini adalah kalimat yang pasti akan mengantar kita meraih keselamatan di dunia dan akhirat. Ada apa dengan hari ini? Ketika Allah swt menyampaikan kepada kita dalam Alquran surah At Talaq ayat 2 dan 3 "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, Dan Dia memberinya rezeki yang tak terduga duga.

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah swt yang akan mencukupkan keperluaanya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah swt telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu". Ini adalah sumber rezeki yang pasti datanganya dari Allah swt yang akan menyelamatkan kita. Rasulullah saw mendidik sahabatnya untuk memiliki sifat sami'na wata'na dengan apa yang diperintahkan Alquran dan yang disabdakan Rasulullah. Akhirnya mereka adalah hamba Allah yang mendapatkan gelaran umat yang terbaik dan di masa yang terbaik. Hari ini umat kita punya sifat sami'na wasaina (kami dengar kami pikir), dan berilah kami peluang untuk mengubahnya. Ini adalah salah satu pemikiran batil yang sedang memainkan peran hari ini.

Hari ini adalah masa yang sudah diprediksi Alquran dan sabda Rasulullah saw. Istimewanya bahwa alam yang akan kita tuju sebenarnya, harapan kita adalah Darussalam. Kita juga sudah mendapatkan informasi bahwa alam akhirat itu kekal, lebih baik dari alam yang hari ini kita rasakan. Kita berharap jangan sampai tertipu. Dzulumat (kegelapan) sudah menguasi dunia ini, bahkan sudah mengarah kepada pencengkraman. Kita sudah dililit dengn sistem riba dan "spilis" (sekularisme pluralisma & liberalisme). Dan tampaknya kita terbawa arus ini, dan tidak peduli dengan tatanan yang menggiring manusia untuk mengikuti alur istilah New World Order (tatanan dunia baru ) yang penuh dengan dzulumat. Sepengetahuan kita, umat yang terbaik dan masa yang terbaik adalah umat yang dibangun Rasulullah saw di era sahabat RA, maka semestinya kita harus belajar dari mereka. Merekalah yang sudah mendapatkan gelaran sebagai umat terbaik, yang hidup hanya untuk mencari rida Allah saja.
Rasulullah saw yang tidur di pelepah daun kurma dan Umar bin Khattab ra yang tidurnya di emperan masjid. Mereka inilah hamba Allah yang bekerja keras, dan berbuat untuk mengantarkan umat manusia meraih keselamatan, kemuliaan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dunia dan akhirat. 

Sahabat-sahabat Rasulullah semuanya melakukan hal yang sama.Walau ada yang menjanjikan kita sejahtera, mulia kemudian mereka tidak merujuk kepada hamba Allah yang mulia, yang terjadi pasti salah langkah. Ini adalah tatanan dzulumat yang tampaknya abu-abu. Yang pasti, jika hanya ingin megharapkan rida Allah swt hanyalah mencontoh Rasulullah dan sahabatnya.
Ketika kita menganggap masa yang Allah swt ridai adalah di era sahabat Rasulullah, maka anda dan saya harus bekerja keras untuk mengantarkan umat ini, mengamalkan perintah Allah swt dengan baik dan benar. Inilah satu-satunya nur--cahaya yang akan mengantarkan kita meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Sosok Firaun yang tidak pernah sakit, berumur ratusan tahun, manjadi raja yang berkuasa mutlak pada masanya. Salahnya hanya satu yaitu menolak agama yang disampaikan Musa as dengan kalimat Laa ilaha illa Allah Musa Qalamullah. Akhirnya Firaun dihinakan Allah swt di dunia dan di akhirat, dan selama-lamanya.

Yaa Allah, yaa Rabb tetapkanlah kami sebagai hamba-Mu, yang mengikuti barisan hamba- hamba yang mulia para Nabi dan Rasul, dan hamba-hambu-Mu yang Engkau ridai. Yaa Allah yaa Rabb, tetapkanlah kami sebagai hamba-Mu yang beriman, yang mempunyai kemampuan mengajak ahli keluarga kami supaya terbebas dari api neraka. Yaa Allah berilah kami maslahatan di dunia dan di akhirat, amin yaa rabbil alamin. Wallahu alam.

Wednesday, 27 September 2017

Selamat Tahun Baru Hijriyah, Rayakan Dengan Instropeksi Diri Dan Meningkatkan Taqwa

Tanpa terasa Kita mulai memasuki awal tahun baru 1439 Hijriyah.Sebuah pelajaran terbesar dari Allah adalah bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) secara menyeluruh. Mulai dari keimanan kita, keislaman kita, ibadah kita, akhlak kita, pergaulan kita, ilmu kita, kewajiban kita, tanggung jawab kita, manajemen waktu kita, gaya hidup kita, shadaqah kita, perhatian kita terhadap aqidah anak-anak kita, hingga kontribusi kita bagi perjuangan menegakkan kalimah Allah, dalam dakwah, tarbiyah dan jihad fi sabililah.

Karena sesungguhnya dengan muhasabah atau evaluasi itulah menjadi kunci utama dalam kehidupan kita untuk menyongsong tahun yang akan datang dengan lebih baik lagi dalam ridha Allah.Dengan muhasabah itu pula, kita dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan kita pada waktu yang lalu, perbaikan hari ini dan persiapan serta perencanaan waktu yang akan datang. Kalau dalam manajemen organisasi ada perencanaan (Planning), pengorganisasin (Organising), pelaksanaan (Actuating) hingga pengawasan (Controlling) dan akhirnya penilaian (Evaluating).

Semua itu kita lakukan agar kualitas hidup kita, terutama kadar Iman dan Islam kita akan berkembang terus menuju ke arah yang benar dan lurus di bawah naungan ridha dan ampunan Allah. Bahkan dengan muhasabah inilah kita dapat mengetahui hakikat dan persoalan diri kita secara pasti di hadapan Allah, amal apa yang sudah kita lakukan seiring bertambahnya kapasitas rezki yang Allah karuniakan kepada kita sebagai bekal menuju perjalanan hari esok, akhirat, yang amat panjang dan pasti.

Allah mengingatkan kita di dalam ayat-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. al-Hasyr [59]:18).

Tentang pentingnya muhasabah atau evaluasi diri ini, Khalifah Umar bin Khattab pernah berkata:

حَاسِبُوْا أَنْفُوْسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا

Artinya: "Hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung (oleh Allah)".

وَزِنُوْاهَا قَبْلَ أَنْ تُزَانُوْا

Artinya: "Timbang-timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang (oleh Allah)".

Yang pertama dan utama hal yang wajib kita koreksi adalah masalah amaliah agama Islam kita.

Pertanyaan-pertanyaan yang pantas kita arahkan pada diri kita sendiri, termasuk pada diri kharib sendiri di antaranya adalah : "Sudah sejauh mana kita memahami dan mengamalkan ajaran agama kita?" "Sejauh mana pula kita sudah memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dan As-Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sebagai sumber utama ajaran agama kita?"

Terkait dengan masalah agama kita ini, maka yang patut kita evaluasi adalah marilah kita meningkatkan spirit dan semangat belajar, belajar dan belajar mendalami nila-nilai mulia ajaran kita, Al-Islam. Karena Dienul Islam itu adalah ilmu, sedangkan ilmu tidak akan didapat kecuali dengan belajar dan mempelajarinya. Semuanya secara global dan universal tercakup dalam kitab suci Al-Quran, sebagai penawar dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya : "Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian." (QS Al-Isra  [17]: 82).

Karena itu amal terbaik adalah belajar Al-Quran dan kemudian mengajarkannya kepada orang-orang di sekitar kita, terutama yang menjadi tangung jawab kita, seperti anak-isteri kita, dan seterusnya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاَنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya".

Dengan bertadarus dan mengkaji kandungan pedoman hidup Al-Quran inilah, maka secara bertahap pola hidup kita, arah hidup kita menjadi sangat jelas yakni ridha Allah.  Sehingga dengan demikian akan mewarnai hidup kita, dalam 'Aqidah, Ibadah, Akhlak, Mu'amalah, Keluarga dan penerapan Syari'ah secara keseluruhan.

Masalah kedua yang perlu kita evaluasi adalah masalah dunia kita. Maksudnya adalah bagaimanakah kita menyikapi kehidupan dunia ini? Apakah kita begitu sangat mencintai dunia, hingga sangat tergantung padanya dan menjadikannya menjadi tujuan hidup kita?Ataukah berbagai fasilitas kehidupan dunia ini, mulai dari uang, rumah, kendaraan yang kita miliki, pangkat dan kedudukan, kita letakkan hanya sebagai sarana amal shalih dan kita tidak mencintainya melebihi cinta pada Allah dan Rasul-Nya?

Ini penting agar dalam mencari penghidupan (ma'isyah) dunia ini, harta yang kita cari dan miliki benar-benar berasal dari sumber yang halal dan tidak sedikitpun tercampur dengan yang haram.Bukan hanya sampai di situ, tapi untuk apa saja harta itu kita gunakan? Serta seberapa besar kontribusi dari harta kita itu untuk juang di jalan Allah, menegakkan kalimah Allah, Al-Islam, yang menjadi agama yang kita anut dan banggakan. Sebab, kalau kehidupan dunia ini malah menjauhkan kita dari ingat kepada Allah, malah menjadikan kita tambah maksiat, hingga Allah pun menguji kita dengan berbagai ujian. Maka, saatnya kita putar haluan, kembali bertaubat kepada-Nya, kembali ke jalan yang lurus.

Allah menyebutkannya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ﴿١٢٤﴾قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا﴿١٢٥﴾قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

Artinya: "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." Berkatalah ia: "Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." (Q.S. Thaha [20]: 124-126).


Agar kita tetap istiqamah di jalan Allah, marilah kita perbanyak berinteraksi dengan orang-orang shalih, yang dengan keshalihannya itu dapat menyeret kita ke dalam pusaran kebaikan, ridha dan ampunan Allah, jannatu na'im. Tinggalkan sejauh-jauhnya pergaulan intensif dengan orang-orang yang lalai kepada aturan Allah.

Allah memperingatkan kita di dalam ayat-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya: "Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Q.S. Al-Ahzab [33]:1).

Jika kita memperbanyak berbakti pada Allah, berbuat baik, bersama orang-orang yang baik, berjuang bersama orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Maka kenikmatan surga balasannya. Aamiinamun, sebaliknya, manakala durhaka kepada-Nya, maka nerakalah akibatnya. Ma'udzubillah.

Allah pun sudah meiunnungatkan kita di dalam ayat-Nya:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ﴿١٣﴾وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka." (Q.S. Al-Infithar [82]: 13-14).

Al-Abraar (yaitu orang yang suka berbuat kebaikan), ia akan selalu dalam kenikmatan yang diberikan Allah di dunia maupun di akhirat. Adapun kaum fajir (orang yang suka berbuat kejahatan), maka mereka akan selalu berada dalam kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Ibnul-Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, "Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah akan menyamakan antara orang-orang yang berbuat taat dengan orang-orang yang suka berbuat maksiat, maka sesungguhnya ia telah berprasangka buruk terhadap Allah Ta'ala."

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

Artinya: "Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" (Q.S. Shad [38]: 28).

Demikianlah kurang lebih makna Muhasabah atau evaluasi diri akhir tahun dan awal tahun baru Hijriyah ini, yang dengannya semoga dapat menghijrahkan kita dari keburukan menuju kebaikan, dari kecintaan berlebihan pada dunia menuju cinta akhirat, dari kemalasan ibadah menuju khusyu, dari pertikain menuju persatuan dan dari kemaksiatan menuju amal shalih. Semoga amal ibadah dan segala kebajikan kita tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Amin ya Robbal 'alamin.


Oleh : Mirajnews.com

Sunday, 10 September 2017

Takutlah Siksa Neraka, Walau Dengan Bersedekah Sebutir Kurma

Mukadimah hadits:

Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, "Tidak ada seorang pun dari kalian kecuali akan diajak bicara oleh Rabbnya tanpa seorangpun penterjemah antara dirinya dengan Rabbnya. Kemudian ia melihat ke sebelah kanan. Ia idak melihat apapun selain apa yang telah ia perbuat. Lalu ia melihat ke sebelah kiri. Ia tidak melihat apapun selain apa yang telah ia perbuat. Dan ia tidak melihat ke arah depannya, kecuali neraka di hadapan wajahnya. Maka takutlah dari (siksa) neraka, walaupun dengan (bersedekah) separuh kurma! Jika itupun tidak didapati, maka dengan (mengucap) kata-kata yang baik." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan singkat :

Jangan sepelekan sekecil apapun kebaikan karena  bisa saja menolong kita dari azab Allah diahirat kelak. melakukan jalan kebaikan banyak sekali, ini adalah kemurahan dari Allah untuk para hamba-Nya, agar mereka mendapatkan keutamaan yang bermacam-macam, dan pahala yang berlimpah. Jalan kebaikan yang pokok ada tiga: amalan jasmani seperti shalat, amalan harta seperti zakat, dan amalan yang berhubungan dengan jasmani dan harta sekaligus seperti berperang di jalan Allah. Tiga pokok amalan ini memiliki ragam yang sangat banyak. Hal tersebut agar ketaatan yang dijalani seorang hamba menjadi beraneka ragam sehingga mereka tidak merasa jenuh. Seandainya amal ketaatan hanya satu macam saja, niscaya mereka akan bosan. Pun tidak akan terlihat siapa yang berhasil melewati ujian, dan siapa yang tidak. Namun jika amal ketaatan beraneka ragam, hal itu akan lebih sesuai dengan kondisi orang yang berbeda-beda, dan akan lebih memperlihatkan kenyataan masing-masing hamba dalam beribadah.

Cukup banyak ayat Al-Quran yang menunjukkan bahwa kebaikan tidak hanya satu macam saja. Di antaranya adalah firman Allah Taala"Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan-kebaikan." (al-Baqarah: 148)

"Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik." (al-Anbiya: 90)

"Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya."(al-Baqarah: 197) 

"Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (al-Baqarah: 215)

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (al-Zalzalah: 7)

Dan masih banyak lagi ayat Quran yang menunjukkan hal ini.

Sedangkan dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, di antaranya adalah sebagai berikut:

Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, "Setiap hari, masing-masing sendi salah seorang dari kalian wajib ditunaikan sedekahnya. Setiap tasbih, tahmid, tahlil dan takbir adalah sedekah. Menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran merupakan sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan pada shalat dhuha mencukupi itu semua." (HR. Muslim)

Dikatakan bahwa sendi tubuh manusia ada 360, baik yang besar ataupun yang kecil. Sehingga setiap hari seseorang harus menunaikan 360 sedekah. Sedekah di sini bukan hanya dalam bentuk harta, akan tetapi kebaikan secara umum. Semua pintu kebaikan adalah sedekah. Disebutkan bahwa tasbih, tahmid, tahlil, takbir, menyuruh kebaikan dan mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Maka setiap perkara yang mendekatkan diri kepada Allah adalah sedekah, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Membaca Al-Quran dan menuntut ilmu agama juga merupakan sedekah. Dengan demikian, sedekah itu ada banyak. Siapapun bisa menunaikan kewajiban sedekah harian yang berjumlah 360 ini.

Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, "Sungguh aku melihat ada seorang laki-laki hilir mudik di surga disebabkan satu pohon yang dia potong dari tengah jalan karena mengganggu kaum muslimin." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa siapa yang menghilangkan gangguan dari kaum muslimin, akan mendapat pahala yang besar. Kalau menghilangkan gangguan yang bersifat indrawi saja seperti ini, bagaimana lagi dengan menghilangkan gangguan yang bersifat maknawi. Ada sebagian orang yang jahat, suka mengganggu, memiliki pemikiran buruk, dan berakhlak tercela. Mereka menghalang-halangi orang banyak dari agama Allah. Menyingkirkan orang-orang seperti ini dari jalan kaum muslimin lebih utama dan lebih besar pahalanya di sisi Allah. Caranya adalah dengan membantah dan menyanggah pemikiran-pemikiran mereka. Kalau cara ini tidak membuahkan hasil, pihak berwenang dapat memberikan hukuman mati atau hukuman fisik atau hukuman sosial kepada mereka, sesuai dengan tingkat kejahatan yang telah mereka lakukan.

Singkat kata, menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk perkara yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Baik itu jalan inderawi yang dilalui telapak kaki, ataupun jalan maknawi yang dilalui oleh qalbu. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilalui qalbu atau amal, pahalanya lebih besar daripada menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilalui telapak kaki.

Sabda Nabi shallallahu alaih wa sallam, "Tidak ada seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan, dicuri, ataupun dikurangi (diambil) dari tanaman itu akan dihitung sebagai sedekah." (HR. Muslim

Dalam riwayat Muslim yang lain, Rasulullah shallallahu alaih wa sallambersabda, "Tidaklah seorang muslim menaman tanaman kemudian dimakan oleh manusia, hewan ataupun burung, kecuali menjadi sedekah untuknya sampai hari kiamat."

Hadits ini mengandung anjuran bercocok tanam. Bercocok tanam memiliki banyak kebaikan dan kemaslahatan, baik yang bersifat keagamaan maupun keduniaan. Di antara maslahat duniawinya ialah mendapatkan hasil tanaman tersebut. Kemaslahatan dari hasil bercocok tanam tidaklah seperti uang. Ia berguna bagi si penanam dan negerinya. Setiap orang akan mendapatkan manfaat. Dengan menjual atau memakan buahnya. Sehingga terjadi pertumbuhan pada masyarakat tersebut dan terwujud kebaikan yang banyak. Adapun maslahat diniyah bercocok tanam, maka apa yang dimakan oleh burung, ayam ataupun binatang lain, walaupun hanya sebutir, akan menjadi sedekah yang pahalanya diperuntukkan bagi si penanam. Baik ia menginginkan hal itu ataupun tidak. Bahkan kalau ada orang yang mencuri hasil cocok tanamnya, ia akan mendapatkan pahala dengan apa yang dicuri itu.

Dengan demikian, hadits di atas menunjukkan banyaknya jalan kebaikan, dan bahwa seseorang akan mendapat pahala dari barang miliknya yang dimanfaatkan oleh orang lain, baik ia niatkan ataupun tidak. Ini seperti firman Allah Taala"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar." (an-Nisaa: 114)

Allah Taalamenyebutkan bahwa semua perkara yang disebutkan ini mengandung kebaikan, baik diniatkan untuk mendapatkan pahala atau tidak. Apabila perkara-perkara tersebut diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka pahalanya lebih besar lagi. Ini merupakan dalil bahwa sesuatu yang diambil manfaatnya oleh orang lain, maka pemiliknya akan mendapat pahala walaupun ia tidak berniat untuk itu. Jika ia niatkan, maka bertambahlah kebaikan di atas kebaikan.

Allah syariatkan banyak jalan kebaikan agar dengan begitu setiap hamba bisa mencapai puncak tujuan. Di antara jalan kebaikan tersebut adalah bersedekah. Terdapat riwayat shahih dari Nabi shallallahu alaih wa sallam,bahwa sedekah itu menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api." (HR. at-Tirmidzi)

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa sedekah, walaupun sedikit, dapat menyelamatkan seseorang dari siksa neraka. Jika seseorang tidak memiliki apapun, ia dapat menjaga dirinya dengan mengucapkan kalimat yang baik. Atau membaca Al-Quran, karena itu adalah sebaik-baik kalimat. Juga bertasbih, bertahlil, dan semisalnya; menyuruh kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar; mengajarkan ilmu dan belajar. Dan ucapan lainnya yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Semua itu termasuk dalam pengertian kalimat yang baik. Maka jika engkau tidak memiliki setengah kurma untuk disedekahkan, jagalah dirimu dari api neraka dengan kalimat-kalimat yang baik.

 

(Sumber: Syarh Riyadh ash-Shalihin, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin &
Darussunah.co.id)

Contoh contoh Kisah Mukjizat Nabi dan Rasul dan Kisah Karomah Wali

Beriman dengan mukjizat para nabi dan karamah para wali adalah salah satu pokok keimanan yang ditunjukkan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Kenyataan yang ada pun mendukung kebenaran ini. Maka seorang muslim wajib meyakini bahwa perkara tersebut memang benar adanya. Mendustakan dan mengingkari adanya mukjizat dan karamah adalah penolakan terhadap nas-nas Al-Quran dan As-Sunnah, pengingkaran terhadap kenyataan, dan penyimpangan yang sangat jauh dari apa yang diyakini oleh para ulama kaum muslimin.

Al-Mu'jizah diambil dari kata al-'ajzu yang bermakna ketidakmampuan. Di dalam kamus disebutkan, "Mu'jizat Nabi shallallahu alaih wa sallam adalah apa yang membuat para penentang beliau tidak mampu menjawab tantangan."
Adapun menurut istilah, al-mu'jizah adalah perkara luar biasa yang terjadi pada diri para nabi sebagai bukti yang menunjukkan kebenaran mereka, disertai ketidakmampuan kaumnya untuk menandingi mukjizat tersebut.

Dengan definisi ini, perbuatan atau peristiwa biasa yang muncul dari para nabi, atau perkara luar biasa yang terjadi pada diri para wali, tidak disebut mukjizat. Demikian pula perkara-perkara tidak wajar yang muncul pada diri para pendusta yang mengaku nabi, atau para tukang sihir dan dukun. Sebab perkara-perkara tersebut bisa dilawan dengan yang semisalnya, karena ia adalah salah satu bentuk sihir.

Beberapa Contoh Mukjizat Para Nabi

Nabi Shalih alaih salam memiliki mukjizat berupa unta yang keluar dari sebuah batu besar. Unta ini memiliki sifat-sifat seperti yang diinginkan oleh kaum Nabi Shalih. (Tafsir Ibnu Katsir 3/436) Allah Taala berfirman tentang hal itu, "Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepada kalian dari Tuhan kalian. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagi kalian, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kalian akan ditimpa siksaan yang pedih." (QS. al-A'raaf: 73)

Nabi Ibrahim alaih salam memiliki mukjizat berupa keadaan tidak terbakar oleh api yang dinyalakan kaumnya untuk menyiksa dan membinasakan beliau. Allah menjadikan api itu dingin untuknya. Allah Taala berfirman, "Mereka berkata: 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak'. Kami berfirman: 'Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim'. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi." (QS. al-Anbiyaa: 68-70)

Nabi Musa alaih salam memiliki mukjizat berupa tongkat yang dapat berubah menjadi seekor ular besar ketika dilemparkan ke tanah. Allah Taala berfirman, "Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?"  Musa berkata: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula." (QS. Thahaa: 17-21)

Mukjizat Nabi Musa lainnya adalah tangan beliau menjadi putih cemerlang seperti rembulan setelah dikeluarkan dari saku bajunya.

Allah Taala berfirman, "Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mu'jizat yang lain (pula)." (QS. Thaahaa: 22)

Nabi Isa alaih salam memiliki mukjizat dapat membuat burung hidup dari tanah liat dengan izin Allah, menyembuhkan orang buta dan orang berpenyakit lepra dengan izin Allah, memanggil orang-orang yang berada di dalam kubur dan semua menjawabnya dengan izin Allah. Allah Taala berfirman, "Dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku." (QS. al-Maaidah: 110)

Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam memiliki mukjizat berupa al-Quran al-'Azhim. Ini adalah mukjizat para rasul yang paling besar. Allah Taala berfirman, "Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." (QS. al-Baqarah: 23) "Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (QS. al-Israa: 88)

Mukjizat Nabi Muhammad shallallahu alaih wa sallam lainnya adalah terbelahnya bulan ketika orang-orang Mekah meminta satu tanda yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang nabi. Allah Taala berfirman, "Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu'jizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus". (QS. al-Qomar: 1-2)

Demikianlah beberapa contoh mukjizat para rasul. Sungguh, mukjizat-mukjizat mereka itu banyak sekali. Lebih khusus mukjizat Nabi kita Muhammad shallallahu alaih wa sallam. Allah menguatkan beliau dengan banyak tanda dan bukti yang tidak terkumpul pada seorang nabi pun sebelum beliau. Apa yang disebutkan di atas hanya sekadar contoh.

 

Karamah Para Wali

Karamah adalah perkara luar biasa yang tidak disertai pengakuan kenabian dan bukanlah pendahuluan kenabian. Ia terjadi pada seorang hamba yang tampak keshalihannya, benar keyakinannya dan suka berbuat kebajikan. Dengan demikian, suatu perkara biasa yang terjadi, mukjizat para Nabi, dan kejadian-kejadian aneh pada tukang sihir dan dukun tidaklah disebut karamah.

 

Contoh-contoh Karamah

Karamah para wali banyak sekali contohnya. Seperti apa yang pernah terjadi pada sebagian orang shalih dari umat-umat terdahulu dan umat Nabi Muhammad shallallahu alaih wa salam. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Peristiwa yang Allah beritakan tentang Maryam alaihas salam. Allah Taala berfirman, "Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." (QS. Ali Imraan: 37)Peristiwa para penghuni gua yang tertidur selama ratusan tahun. Allah membawakan kisahnya di dalam al-Quran surat al-Kahfi.Peristiwa yang terjadi pada Usaid bin Hudhair radhiyallahu'anhu ketika pada suatu malam beliau membaca surat al-Kahfi, turunlah sesuatu dari langit seperti awan yang membawa sinar. Ketika ditanyakan kepada Nabi shallallahu 'alaih wa sallam, ternyata itu adalah para malaikat yang turun karena bacaan Quran beliau.Khubaib bin 'Adi radhiyallahu'anhu. Ketika beliau ditawan orang-orang musyrik Mekah, Allah memuliakan beliau. Beliau diberi anggur yang kemudian dimakannya, padahal di Mekah tidak ada satu pun anggur ketika itu.Peristiwa yang terjadi pada Abu Muslim al-Khaulani rahimahullaah ketika beliau ditawan oleh Abu al-Aswad al-Ansi, seorang yang mengaku sebagai nabi. Abu al-Aswad al-'Ansi mengatakan kepadanya, "Apakah Anda bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?" Beliau menjawab, "Saya tidak mendengar." Kemudian ia berkata lagi, "Apakah Anda bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?" Beliau menjawab, "Ya." Maka beliaupun dilempar ke dalam api. Lalu beliau didapati sedang shalat di dalam kobaran api tersebut.

Masih banyak lagi kisah-kisah lain yang sejenis di dalam kitab-kitab siroh dan tarikh.

 

Perbedaan Antara Mukjizat dan Karamah

Dengan definisi yang telah disebutkan tentang mukjizat dan karamah, dapat disimpulkan bahwa mukjizat terjadi disertai pengakuan kenabian, sedangkan karamah tidak. Dan karamah terjadi pada diri seseorang, karena mengikuti Nabi dan istiqomah di atas syariatnya. Secara ringkas, mukjizat adalah untuk para nabi, sedangkan karamah untuk para wali. Di sini perlu dijelaskan bahwa istilah mukjizat untuk perkara luar biasa yang terjadi pada para nabi, dan istilah karamah untuk perkara luar biasa yang terjadi pada para wali merupakan istilah yang ditetapkan oleh para ulama. Ia tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Namun makna dua istilah ini kembali kepada kebenaran yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

 

Friday, 1 September 2017

Umar Bin Abdul Aziz ra. Seorang Pemimpin Teladan dan Juga Seorang Ulama


Oleh : Nuim Hidayat (Penulis Buku ‘Imperialisme Baru’)

Suatu ketika sahabat Abdullah bin Zubair berkata,” “Suatu malam aku sedang menemani Umar bin Khattab berpatroli di Madinah. Ketika ia merasa lelah, ia bersandar ke sebuah dinding di malam gelap buta, Ia mendengar suara seorang wanita berkata kepada putrinya, ‘Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.’ Maka putrinya menjawab, ‘Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin?’ Ibunya bertanya, ‘Wahai putriku, apa maklumatnya?’ Putrinya menjawab, ‘Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.’ Ibunya berkata, ‘Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.’ Maka gadis itu menjawab, ‘Ibu, Amriul Mukminin memang tidak melihat kita. Tapi Rabb Amirul Mukminin melihatnya. “

Umar mendengar perbincangan ibu dan anak itu. Maka ia menugaskan pengawalnya untuk menandai rumah itu dan mencari informasi lebih lanjut tentang anak gadis itu. Setelah itu, Umar kemudian memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka, Umar berkata, ‘Adakah di antara kalian yang ingin menikah?’ Ashim menjawab, ‘Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku.’ Maka Umar meminang gadis itu dan menikahkannya dengan Ashim. Dari pernikahan inilah lahir seorang putri yang di kemudian hari menjadi ibu bagi Umar bin Abdul Aziz. Sedangkan ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan, salah seorang gubernur yang shaleh dari Bani Umayah.

Umar bin Abdul Aziz terkenal dengan kezuhudannya, kealimannya dan kepeduliannya yang tinggi terhadap urusan rakyat. Suatu ketika seorang penduduk mengadukan kepada Umar tentang nasibnya. Ia melaporkan bahwa ada pejabatnya yang telah merampas toko-tokonya. Pejabat itu lantas dipanggil Umar dan kemudian ia memerintahkan pejabat itu untuk mengembalikan toko itu kepada penduduk yang memilikinya. Tapi pejabat itu bandel, ia tidak menaati perintah Umar. Khalifah Umar kemudian memanggil polisinya dan mengatakan,”Jika dia mengembalikan toko itu kepada pemiliknya, maka tinggalkanlah dia. Tetapi bila orang itu (pejabat) masih membangkang juga, maka pancunglah kepalanya.” Karena ancaman yang keras itu, akhirnya pejabat itu mengembalikan toko itu kepada pemiliknya.

Kiyai Firdaus AN dalam bukunya Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz menceritakan, di masa Umar bin Abdul Aziz, terjadi fitnah adanya ‘saling mencaci’ antara pengikut Sayidina Ali dan Bani Umayah. Pencacian itu kadang-kadang dilakukan di mimbar-mimbar. Umar bersedih, karena ia mengetahui kehebatan dan kealiman Sayidina Ali. Maka kemudian ia memerintahkan kepada rakyatnya untuk menghentikan pengutukan terhadap Sayidina Ali dan menyuruh para khatib untuk menggantinya dengan membaca surah an Nahl ayat 90 dan atau surah al Hasyr ayat 10.
“Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan berbuat kebajikan (ihsan), member kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an Nahl 90)
“Ya Tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan Kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al Hasyr 10)

Untuk menjaga keadilan dan kelancaran administrasi Negara, maka Umar bin Abdul Aziz melarang para gubernur dan pejabat-pejabat berdagang untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun familinya. Umar menulis surat berikut: “Kami berpendapat, bahwa seorang Imam (pemimpin Negara) tidak pantas untuk berdagang. Begitu pula tidak halal bagi seorang gubernur untuk berdagang di dalam wilayah kekuasannya. Karena seorang Amir bila ia berdagang ia akan mudah melakukan monopoli dan membenarkan perbuatan yang merusak Negara, sekalipun ia berusaha keras untuk tidak berbuat demikian.”

Untuk itu, agar para pejabatnya tidak berbisnis dan tidak menyelewengkan uang negara, maka Umar memberikan gaji yang cukup tinggi kepada para pejabatnya. Karena begitu makmurnya Negara saat itu, hingga gaji para pejabat itu sampai ada yang berjumlah tiga ratus Dinar.
Memang kemakmuran dan keadilan mewarnai Negara pada saat itu. Yahya Ibnu Said berkata,”Umar bin Abdul Aziz telah mengutus aku ke Afrika Utara untuk membagi-bagikan zakat penduduk di sana. Maka aku laksanakanlah perintah itu. Lalu aku cari orang-orang fakir untuk kuberikan zakat itu pada mereka. Tetapi kami tidak mendapatkan seorangpun juga dan kami tidak menemukan orang-orang yang menerimanya. Umar betul-betul telah menjadikan rakyatnya kaya. Akhirnya kubeli dengan zakat itu beberapa orang hamba sahaya yang kemudian kumerdekakan.”

Meski rakyatnya kaya, Umar hidup sederhana. Kezuhudannya terkenal di seluruh penjuru wilayahnya. Ia member anak-anaknya pakaian dan makanan yang sederhana. Sering anak-anak perempuannya disuguhi dengan makanan kacang dan bawang merah, sambil dia menangis dan berkata,”Apa gunanya wahai anak-anakku. Kalian hidup dengan mengecap bermacam-macam makanan yang lezat, tetapi yang mempersiapkan itu karenanya pergi masuk neraka.”

Umar memang umara yang sekaligus ulama. Pendalamannya yang mendalam terhadap agama, menjadikannya pemimpin yang adil, bijaksana dan menjadikan Islam bersinar terang karena pemimpin dan masyarakat menerapkannya bersama. Ia bukan pemimpin yang zalim yang menyebabkan agama menjadi rusak. Dalam Mukhtarul Haditsun Nabawiyyah, Sayyid Ahmad Hasyimi mengutip hadits Rasulullah saw : “Pernyakit agama ada tiga: orang yang faqih tapi fajir (suka berbuat dosa besar), imam yang jair (suka berbuat zalim) dan mujtahid yang jahil (bodoh).” HR Ad Dailami dari Ibnu Abbas.

Karena itu, kakeknya Umar bin Khattab pernah memberi nasehat kepada rakyatnya.”Perdalamlah ilmu agama, sebelum kamu menjadi pemimpin.” (tafaqqahu qabla an tusawwadu). Dan Umar bin Abdul Aziz pernah memberi kepada gubernur-gubernurnya: “Adapun kemudian daripada itu, Allah Azza Wajalla telah memuliakan pemeluk-pemeluknya dengan agama Islam, menjunjung tinggi mereka serta menghormatinya. Sebaliknya mengecilkan dan merendahkan martabat orang-orang yang menentang mereka itu. Dan Allah telah menjadikan mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk kepentingan umat manusia. Dari itu janganlah sekali-kali kalian menyerahkan kepemimpinan mereka kepada orang-orang dzimmi. Karena nanti mereka membelenggu tangan dan mengunci lisan orang Islam, yang dengan begitu kalian berarti merendahkan mereka setelah Allah memuliakan mereka dan menghinakan mereka setelah Allah meninggikan martabat mereka…”

Khalifah yang mulia ini lahir pada 63H (682M) dan hanya memerintah selama dua setengah tahun saja (717-720M). Ia meninggal pada usia 38 tahun, karena diracun oleh sekawanan orang yang dendam dengannya. Pembunuhnya berhasil ditangkap dan mengaku mendapat bayaran seribu Dinar. Uang itu akhirnya dimintanya dan dimasukkan ke Baitul Mal.

Akhlaq Mulia Adalah Faktor Utama Dalam Berdakwah


Oleh: Mohammad Natsir (Mantan Ketua Umum Masyumi)

"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlaq" (HR Malik)

"Wahai Tuhan Kami. Dan bangkitlah diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang menyampaikan kepada mereka kitab itu, dan hikmah, dan membersihkan mereka, karena sesungguhnya Engkaulah yang Gagah, Maha Bijaksana." (Al Baqarah 129).

Sudah kita jelajahi bagaimana daya tarik lisanul hal dan uswah hasanah di bidang da'wah. Tarikan bahasanya ibarat tarikan magnet (besi berani) terhadap apa saja yang bersifat logam, yang bermutu tinggi atau yang tidak. Sumber tenaga bagi daya tarik itu tidak lagi terletak pada ilmu, dan tidak pula pada hikmah. Ilmu dan hikmah hanya pembuka jalan. Sumber tenaganya sendiri terletak pada akhlaq pribadi dari pembawa da'wah sendiri.

Akhlaq dengan mempergunakan ta'rif yang lazim, ialah: yakni, sifat yang berurat berakar pada diri seseorang, yang terbit daripadanya amal perbuatan dengan mudah, tanpa dipikir-pikir dan ditimbang-timbang lagi, secara spontan kata orang sekarang. Baik atau buruknya amal perbuatan yang terbit secara spontan itu tergantung pada baik atau buruknya akhlaq pribadi yang bersangkutan. Lisanul hal yang baik dan uswah hasanah yang menarik hanya bisa terbit dari akhlaq yang baik dan mulia, kahlaqul karimah. Begitu pula sebaliknya.

Adapun yang dibawakan seorang mubaligh adalah wahyu Ilahi dan Sunnah Rasul. Yakni barang yang hak dan murni, yang sebenarnya sudah mengandung daya dan kekuatan sendiri, ibarat singa yang bisa dilepaskan, sanggup mencari dan menaklukkan mangsanya sendiri. Akan tetapi sebelum dia dapat dilepaskan, yakni sebelum isi dari da'wah itu dapat dihidangkan dan diperkenalkan secara mendalam, mata orang, pada taraf pertama lebih banyak tertuju kepada apa yang dapat dilihat dan didengar  dari hal ihwal dan sifat pribadi yang membawanya.

Penilaian orang terhadap akhlaq pribadi pembawa da'wah itu, sebagian besar mempengaruhi, malah bisa menentukan, apa akan terbukakah pintu bagi isi da'wah yang disampaikannya atau tidak. Umpamanya bagi seorang kaisar Romawi, Heraclius, sesudah dia mendengar dari Abu Sufyan, yang dikala itu belum masuk Islam, malah diantara para pemimpin Quraisy yang paling gigih memusuhi Rasulullah saw bagaimana sifat-sifat Muhammad saw beserta pengikut-pengikutnya, sudah merasa cukup untuk mengambil kesimpulan:

"…Bila semua yang engkau terangkan itu benar, niscaya ia (Muhammad saw) akan menguasai bumi yang ada di bawah telapak kakiku ini. Aku sudah tahu bahwa seorang Nabi akan datang, tapi aku tidak sangka, bahwa dia akan dibangkitkan dari kalanganmu (bangsa Arab). Sekiranya aku sampai ke tempatnya, pasti akan kuperlukan menemuinya. Dan bila aku berhadapan dengan dia, akan kubasuh kedua telapak kakinya."[1]

Yang diterangkan oleh Abu Sufyan kepada Heraclius, dalam menjawab satu rentetan pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan secara kategoris oleh Raja Romawi itu kepadanya, antara lain ialah bahwa:Muhammad saw tampil sebagai Rasul dari kalangan kaumnya sendiri, tidak ada diantara nenek moyangnya yang menjadi raja, tidak ada sebelumnya diantara kaumnya yang menyampaikan ajaran-ajaran seperti yang dibawakan oleh Muhammad saw

Pengikut-pengikutnya pada umumnya terdiri dari orang-orang awam yang miskin. Tidak seorangpun dari pengikutnya yang murtad lantaran tumbuh benci kepada agama itu sesudah dimasukinya, Pengikutnya tidak berkurang, malah kian hari kian besar jumlahnya tidak pernah Muhammad saw kedapatan berdusta dan Tidak pernah ia mengkhianati janji.

Yang diajarkannya ialah supaya menyembah Allah semata-mata, dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, melarang menyembah berhala, menyuruh menegakkan shalat, mengeluarkan zakat dan hidup bersih lahir dan batin. Bagi seorang Heraclius yang berfikir secara kritis, pengetahuan tentang akhlaq pribadi Muhammad saw (serta hal ihwal para pengikutnya) yang diperoleh dari fihak lawannya sendiri, yang demikian itu baginya sudah cukup untuk sampai kepada kesimpulan seperti yang diucapkannya itu.

Dengan demikian pintu sudah terbuka, dan kebenaran sudah sampai, yakni diterima. Adapun apakah pengakuan kepada kebenaran itu oleh seseorang, selanjutnya juga akan  menjelma menjadi hidayah bagi dirinya, yang menuntun amal perbuatan dan tindak tanduknya, seterusnya, ini tidak lagi terletak dalam kekuasaan pembawa da'wah. Ini terletak di luar "wilayah da'wah" seperti yang pernah kita kemukakan terdahulu.[2]

Hutang pembawa da'wah, sebagaimana juga pembawa risalah adalah menyampaikan sehingga sampai, dalam arti yang demikian itu. Dan hutangnya juga, sekurang-kurangnya menjauhkan diri dari sisi pribadinya sendiri segala sifat-sifat dan tingkah laku yang dapat merintangi sampainya kebenaran yang dibawakanya. Soalnya bagi seorang mubaligh ialah bahwa satu kali dia melangkahkan kaki ke dalam gelanggang da'wah, maka semua mata dan telinga di sekitarnya tertuju kepada pribadinya, kepada tingkah lakunya, kepada sifat dan tabiatnya, ringkasnya kepada apa yang disebut "hidup pribadinya".

Boleh dikatakan bahwa semenjak itu, dia sebenarnya tidak lagi mempunyai hidup pribadi dalam arti yang lazim dipakai untuk orang lain. Semenjak itu dia menjadi "milik masyarakat", seorang "public person" dalam arti yang luas. Dia tidak bisa bersikap, turut saja perkataanku, jangan pedulikan bagaimana aku dan apa yang aku lakukan si samping itu! Tidak! Andaikata ada sesuatu fungsi lain dimana yang bersangkutan bisa bersikap begitu, kedudukan sebagai seorang pendukung da'wah tidak mengizinkan berpendirian demikian.

Mau tak mau gerak gerik dalam hidup pribadinya bukan saja diperhatikan, tetapi juga langsung dijadikan orang bahan perbandingan dengan apa yang dianjurkannya dan yang dilarangnya sebagai mubaligh. Apa yang dilihat dan didengar orang dari hidup pribadinya itu bisa menambah kekuatan daya panggilnya sebagai pembawa da'wah tapi bisa pula melumpuhkan daya panggilnya, yakni bila lain yang tampak dari yang terdengar.

Begitu pembawaan dari tugasnya.

Da'wah dan akhlaqul karimah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain, kalau da'wah hendak berhasil. Banyak hal-hal yang sulit yang tak dapat diatasi dengan semata-mata ilmu yang kering, dapat diatasi dengan akhlaq. Sebaliknya banyak kesulitan baru yang bisa timbul bila da'wah tidak didukung oleh akhlaq.

Salah satu contoh:

Suatu hal yang karakteristik (bersifat khusus) dari pekerjaan seorang mubaligh ialah bahwa ia melakukan tugasnya dalam rangka dan suasana kemerdekaan berfikir, yang diakui dan ditegaskan oleh Risalah sendiri, sebagaimana telah dikemukakan dalam bab Fiqhud Da'wah yang terdahulu. Seorang mubaligh yang menerima kemerdekaan berfikir dan mengatakan pendapat sebagai salah satu hak asasi, dan salah satu qaidah agama, tidak usah merasa kecil hati atau hilang kesabaran, apabila dalam melakukan tugasnya ia melihat ada berbagai perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sendiri tentang masalah agama. Yakni berupa perbedaan –perbedaan pendapat yang disebut ikhtilaf. Baik di bidang hukum fiqh ataupun dalam soal-soal yang sudah menyinggung bidang aqidah, ada yang ringan dan ada yang berat.

Sudah tentu sebagai seorang mubaligh, ia tidak bisa menghindarkan diri daripada menentukan posisinya di tengah-tengah persimpangsiuran faham dan pendapat itu. Ia seorang tempat bertanya. Dia dilarang kitman, menyembunyikan kebenaran yang dia sudah ketahui.

"Dan janganlah kamu samarkan yang benar dengan yang salah, dan (Janganlah) kamu sembunyikan kebenaran padahal engkau ketahui." (Al Baqarah 42).

Tidak ada gunanya dia bersikap pura-pura tak tahu, dia meniru-niru siasat burung unta yang terkenal itu: yakni menyurukkan kepalanya dalam pasir, supaya jangan kelihatan bahaya datang. Tidaklah selaras pula dengan tugasnya, bila ia mencoba-coba menutup rapat semua jalan bagi perbedaan faham itu sama sekali dengan alasan supaya semuanya hidup rukun, damai dan tenang.

Air yang dibiarkan tergenang dalam tebat atau balong terus menerus, tidak dialirkan, tidak ditambah, tidak dikurangi, tentu saja tenang. Tenang tapi tidak ada yang bisa hidup di dalamnya, kecuali benih dari segala macam penyakit. Bukan "ketenangan" yang semacam itu yang dikehendaki Risalah Muhammad saw. Risalah menghendaki pembersihan, menghendaki perkembangan…

Untuk ini, Risalah mewajibkan tafakkur, tadabbur, tafaqquh fid din, tafaqquh fiddunya al mutathawwirah, membukakan pintu ijtihad atas garis-garis yang tertentu, dan dengan perlengkapan alat-alat yang diperlukan untuk itu. Terkenal antara lain dalam rangka ini percakapan Rasulullah saw dengan Muadz bin Jabal, di waktu Muadz akan berangkat untuk memimpin pemerintahan daerah Yaman :…*  (Dikutip dari buku Mohammad Natsir, Fiqhud Da'wah, Yayasan Capita Selecta dan Media Da'wah, 2008).n.
Oleh: Mohammad Natsir

Bertanya Rasulullah saw kepada Muadz:

"Dengan apa engkau menentukan hukum?"

Menjawab Muadz: "Dengan Kitabullah."

Rasulullah saw: "Jika engkau tidak dapati (di sana)?"

Muadz: "Dengan Sunnah Rasulullah saw"

Rasulullah saw: "Jika engkau tidak dapati ( di sana)?"

Muadz: "Aku akan berijtihad dengan pendapatku."

Rasulullah saw: "Segala puji bagi Allah yang telah menyesuaikan (pendirian) utusan Rasulullah dengan apa yang diridhai oleh Rasulullah." (HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

Rasulullah saw menggemarkan umatnya melakukan ijtihad dalam menghadapi "perkembangan zaman yang terus beredar" ini dengan sabda:

"Barangsiapa berijtihad dan hasilnya betul, maka dia mendapat dua ganjaran dan barangsiapa berijtihad sedangkan hasilnya salah, maka dia mendapat satu ganjaran." (HR Bukhari)

Tafaqquh fiddin dan ijtihad, tidak mustahil, malah lazim menghasilkan pendapat yang berbeda-beda: Ikhtilaf.

Maka tidaklah ada hikmah dalam suatu usaha untuk membekukan amar makruf nahi mungkar, lantaran hendak mengelakkan ikhtilaf, lantaran ingin menjaga agar ketenangan jangan terganggu dengan akibat: segala sesuatu jadi tergenang, terapung tak hanyut.

Hikmah dengan membungkamkan da'wah, bukan hikmah, tapi suatu kelumpuhan; kelumpuhan yang mengakibatkan umat menjadi jumud, beku dan kesesatan terus merajalela.

Al Qur'an melukiskan sikap jumud dengan jawaban golongan yang membeku itu terhadap panggilan da'wah antara lain:

قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

"…Mereka berkata: Cukuplah bagi kami apa-apa yang kami dapati nenek moyang kami atasnya…" (Al Maidah 104)

قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا

"…Mereka berkata: Hanya kami hendak menurut (cara-cara) yang dilakukan oleh nenek moyang kami…"(Al Baqarah 170)

قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا

"…Mereka berkata: Hanya kami menurut apa-apa yang dianut oleh nenek moyang kami…" (Luqman 21)

Tidak ada larangan agama terhadap ikhtilaf yang dihasilkan oleh tafaqquh fiddin dan ijtihad. Yang merusak keutuhan umat dan lantaran itu terlarang, ialah jumud dan tafarruq, beku dan berpecah belah.

Kita sama sekali tidak harus memilih hanya salah satu dari alternatif: beku atau pecah belah. Tak ada yang harus dipilih antara jumud dan tafarruq. Kedua-duanya harus ditolak, kedua-duanya harus disingkirkan.

Semata-mata ikhtilaf tidak otomatis mengakibatkan tafarruq.

Di kalangan para shahabat pun juga terdapat ikhtilaf, perbedaan faham tentang masalah-masalah fiqh, tetapi mereka tidak pecah belah lantarannya. Mereka berpegang kepada petunjuk Risalah sendiri, bagaimana cara menghadapi sesuatu perbedaan pendapat.

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

"…Maka apabila kamu berbantahan tentang sesuatu, maka pulangkanlah kepada Allah dan Rasul." (An Nisa 59).

Dengan demikian mereka terhindar dari tafarruq.

Diantara para imam mujtahidin yang besar-besar pun ada ikhtilaf. Terdapat ikhtilaf diantara beberapa pendapat Imam Syafii dan pendapat-pendapat guru beliau, Imam Malik; antara beberapa pendapat-pendapat Imam Ibnu Hambal dengan pendapat-pendapat guru beliau, Imam Syafii; antara beberapa pendapat Imam Abu Hanifah dengan pendapat-pendapat para Imam mujtahidin yang bertiga itu (rahimahumullah).

Mereka berpegang teguh kepada pedoman yang telah dipakai oleh para shahabat. Dengan rumusan kata-kata yang terang dan dengan gaya masing-masing, mereka tegaskan kepada para murid dan pengikut-pengikut mereka, supaya jangan sekali-kali menganggap fatwa mereka sebagai suatu kata keputusan yang tidak bisa dibanding lagi, supaya bila bertemu dengan nash Al Qur'an atau Sunnah Rasul yang berlawanan dengan fatwa mereka, yang dipegang ialah Al Qur'an atau Sunnah Rasul dan fatwa merekalah yang gugur.

Kepada setiap orang yang menelaah fatwa beliau, Imam Syafii mengamanatkan pula:

"Apabila kamu menemui dalam kitabku sesuatu yang bersalah dengan Sunnah Rasulullah saw, maka berpeganglah kepada Sunnah Rasulullah saw dan tolaklah apa yang kufatwakan." (Al Baihaqi, Al Manar, jilid IV, 693).

Berkata Imam Malik bin Anas,

"Aku hanya seorang manusia, bisa salah, bisa betul; maka perhatikanlah pendapat-pendapatku; semua yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, perpegangilah, dan semua yang tidak sesuai dengan Kitab dan Sunnah, tinggalkanlah." (Ibn Abdil Barr, Al Manar, Jilid IV, 572).

Di waktu seorang bertanya kepada Imam Abu Hanifah bagaimanakah bila ternyata bahwa suatu fatwa beliau bersalahan dengan Kitabullah, dan bagaimana bila ternyata bersalahan dengan Sunnah Rasul. Beliau menjawab:

"Tinggalkan fatwaku lantaran (ketentuan) Kitabullah." Dan :

"Tinggalkan fatwaku lentaran (ketentuan) Sunnah Rasul saw. (Asy Syaukani, Al Qaulul Mufid 23).

Semakin tinggi mujtahid, semakin tinggi pula penghargaan mereka terhadap hak dan kesempatan untuk berijtihad bagi orang lain, baik yang sezaman dengan mereka ataupun yang datang sesudah mereka. Mereka berijtihad dengan sepenuh tenaga, dan penuh rasa tanggungjawab kepada Allah. Sebagaimana diketahui Imam Syafii tidak segan-segan mengoreksi fatwanya sendiri, bila beliau mengetahui, bahwa perlu dikoreksi. Dengan demikian ada Qaulul Qadim (fatwa yang terdahulu sewaktu di Irak) dan ada Qaulul Jadid (fatwa yang baru sewaktu di Mesir), dari Imam Syafii.

Berkata beliau,

"Tiap-tiap masalah yang sah atasnya dari Hadits Rasulullah saw dan menyalahi fatwaku, maka aku rujuk daripadanya (dari fatwaku), di waktu aku (masih) hidup dan sesudah aku mati." (Asy Syaukani al Qaulul Mufid 24).

 Ruju' kembali kepada kebenaran, bila ternyata keliru, mereka anggap suatu kewajiban, satu tindakan yang mulia, bukan satu keaiban.

Perhatikan pula, bagaimana "kolegialnya" segar dan ikhlasnya hubungan pribadi diantara mereka, sekalipun terdapat perbedaan diantara fatwa-fatwa mereka dalam beberapa hal. Meriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal,

"Telah berkata Syafii kepadaku: Bila kau mengetahui suatu hadits yang shahih, sampaikanlah kepadaku, supaya kujadikan dasar bagi fatwaku." (Al Manar IV, 694).

Sikap jiwa mereka yang bersih dalam semua hal, memang terbayang pula dalam kelaziman mereka menutup tiap-tiap fatwa mereka dengan kata-kata Wallaahu a'lam. Yakni: Inilah pendapatku, sebagai hasil dari ijtihadku, dengan sekuat daya ilmuku. Dalam pada itu Allah jua yang lebih mengetahui akan kebenaran.[i]

Sebaliknya berpantang pula mereka menggunakan kekuasaan duniawi untuk memonopoli fikiran orang banyak. Diriwayatkan bahwa pernah Khalifah Harun ar Rasyid bermaksud hendak mendekritkan fatwa Imam Malik sebagai "mazhab resmi" untuk dianut oleh seluruh warga negaranya. Tetapi Imam Malik sendiri yang tidak setuju dan melarang Khalifah berbuat begitu. (Asy Syaukani: Al Qaulul Mufid 28).

Demikianlah para imam mujtahidin menunjukkan dengan kata-kata yang terang, dan dengan contoh teladan yang amat indahnya dalam sejarah para ahli fikir dan perkembangan fikiran manusia, bagaimana yang disebut berijtihad, memeras otak mencari kebenaran, serta bertahkim kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul bila terdapat perselisihan faham: dan apa artinya mempertahankan keyakinan sendiri serta menghormati hak orang lain untuk berbeda pendapat. Sehingga terpelihara ikhtilaf tidak mengakibatkan tafarruq, keutuhan umat terpelihara, tanpa pembekuan dan keteguhan pendirian terjelma, tanpa taasub.

Demikianlah baik para sahabat ataupun para Imam Mujtahidin sama sekali tidak mengusahakan adanya pembekuan, sedangkan ikhtilaf diantara mereka tidak mengakibatkan tafarruq.

Maka tidak ada alasan sama sekali untuk terombang ambing dua hal yang tidak harus dipilih salah satunya itu, jumud atau tafarruq. Juga para alim ulama dan muballighin kita niscaya dapat menyingkirkan kedua-duanya. Petunjuk Al Qur'an tentang bagaimana menghadapi perbedaan pendapat itu, bukan dikhususkan untuk para Sahabat dan para imam mujtahidin zaman yang silam itu saja. Al Qur'an keseluruhannya berlaku buat mereka, buat kita sekarang ini, dan buat keturunan di belakang kita. Kebekuan dan perpecahan, kedua-duanya bisa disingkirkan dengan da'wah bil hikmah dengan mauidzah hasanah, dengan mujahadah billati hiya ahsan, dan dengan sama-sama bertahkim kepada Allah dan Rasul, dengan ridha! Dan dimana perlu dengan kesanggupan untuk keluar dari sesuatu pertukaran fikiran yang belum kunjung putus, dalam suasana "Allah lebih mengetahui" dan:

"Tuhan kita akan menghimpun kita, dan akan memberi keputusan antara kita dengan benar, dan Dialah Pemberi keputusan Yang Maha Mengetahui." (As Saba' 26).

Walaupun bagaimana , tidak dengan menyambung munadzarah yang belum selesai dalam kalangan para ahli, dengan pertengkaran mulut yang tak menentu di kalangan awam.

Pernah Imam al Ghazali menasehatkan kepada mereka yang hendak memasuki pembahasan-pembahasan "khilafiyah", supaya terlebih dahulu memenuhi ketentuan-ketentuan yang sudah "mutafaq alaih", yakni yang sudah tidak syak lagi, semua Umat Islam bersatu pendapat tentangnya.

Berkata beliau: "Semua ahli agama sudah sepakat, bahwa perbekalan untuk hidup akhirat adalah taqwa, dan wara' (kebersihan rohani dan kebersihan dari segala tingkah laku yang mungkar), bahwa mencari nafkah dengan jalan yang haram, memiliki harta haram, menceritakan keburukan orang lain (namimah), mencuri, berkhianat dan lain-lain hal yang terlarang oleh agama, hukumnya haram dan bahwa semua yang diperintahkan oleh agama, hukumnya wajib.

Maka apabila engkau sudah penuhi ini semua, aku akan ajarkan bagaimana jalan keluar dari kemusykilan masalah-masalah khilafiyah itu.

Tapi bila seseorang yang tidak memperdulikan kewajiban-kewajibannya yang "muttafaq alaih" ini semua, lalu bertanya-tanya kepadaku perkara soal-soal khilafiyah, dia itu bukan seorang awam (yang memang menghajatkan keterangan hukum untuk diamalkannya) tetapi seorang "jadaly", (yang suka debat berdebat) saja.

Adakah engkau melihat teman-temanmu yang sudah memenuhi (ketentuan-ketentuan) ini semua, lalu kena cekik oleh kemusykilan-kemusykilan masalah khilafiyah?", tanya Imam al Ghazali.[1]

"Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu sekalian ke dalam keselamatan dan jangan kamu turut langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya ia itu musuhmu yang nyata." (Al Baqarah 208).

Dalam hubungan dengan ayat-ayat surat al An'am 153 dan 159, Syekh Muhammad Abduh berkata antara lain:

"…Ayat-ayat ini adalah hujjah bagi ulama-ulama usul yang berkata bahwa hak itu adalah satu, tidak berbilang. Alangkah baiknya apabila mereka yang berpegang kepada usul ini, mewajibkan atas diri mereka, untuk berkumpul pada setiap kali mereka berjumpa dengan perbedaan faham, lalu membahasnya, untuk mencari kebenaran tanpa taasub dan tanpa nifaq, sehingga bila mereka dapat melihat kebenaran itu, mereka berijma' atasnya. Tetapi apabila sebagian dari mereka belum dapat melihat, maka mereka harus bertekun mencarinya dengan ikhlas, dan dan tidak ada seseorang diantara mereka memusuhi yang lain lantaran (masalah) itu, dan tidak pula menjadikannya suatu alat untuk perpecahan. Jalan hak adalah persatuan dan berserah diri (kepada Allah SWT) dan jalan-jalan syaithan adalah mengorbankan perpecahan dan permusuhan…Ini cukup diketahui di kalangan umat manusia. Hanya syaithan (senantiasa) memikat manusia kepada jalan-jalan yang ditempuhnya dan menggambarkan kepada mereka seolah-olah ada keuntungan-keuntungan dan kebaikan dalam perpecahan dan permusuhan…" Demikian Syekh Muhammad Abduh.

Maka tidaklah begitu sulit untuk mencarikan jawab bagi pertanyaan: darimana tafarruq.

Kalau kita mau mencari sumbernya secara jujur, nyatalah bahwa timbulnya tafarruq bukan saja lantaran tidak adanya hikmah dalam da'wah, tetapi terutama lantaran luputnya ikhlash, lantaran datangnya ananiyah yang menggantikan ikhlas, maka pulang kepada "tazkiyatun nafs" yang telah kita kemukakan dalam bab "Fqihud Da'wah" yang terdahulu.

Apabila sudah datang ananiyah mencampuri usaha da'wah, maka hinggaplah ria pada diri pembawa da'wah, dan taasub pada lingkungan pengikutnya. Penyakit riya disatu fihak, dan taasub di lain fihak, kedua-duanya menghalang-halangi seorang mubaligh untuk ruju' dari kekeliruan bila ada, kedua-duanya mendorongnya supaya mempertahankan tuahdan prestise diri dan golongannya, mendorongnya supaya terus pula mempertahankan tuah itu sampai jadi lebih besar lagi kalau masih bisa; kedua-duanya menutup matanya dari tempat bertahkim, yang ditunjukkan oleh Risalah, yang diperpegangi oleh para Sahabat dan para imam mujtahidin yang mukhlisin itu.

Ia lebih suka bertahkim kepada khalayak ramai yang turut menonton debat, kepada jumlah murid dan pengikut masing-masing: mana yang lebih banyak!

Para murid dan pengikutpun dibiarkan beradu antara satu sama lain, dimana saja asal bertemu, di tempat walimah, di tempat orang kematian, di pasar-pasar dan warung-warung kopi, lebih banyak bersifat perang ejekan dan cemooh, sambil membagi-bagi api neraka bagi masing-masing lawan daripada bertukar hujjah dan keterangan secara sungguh-sungguh. Segala sesuatunya demi untuk menegakkan tuah Tuan Guru masing-masing.

  Adapun din, adapun agama itu sendiri sudah lama tercecer di tengah jalan. Tidak lagi dirasakan sebagai kepunyaan Allah, akan tetapi sudah seolah-olah dijadikan milik monopoli masing-masing golongan untuk melayani kepentingan golongan masing-masing.

Ini sudah bukan ikhtilaf lagi dan bukan da'wah lagi. Yang macam ini tidak ada sangkut pautnya dengan da'wah lilLah, sebagai kelanjutan Risalah Muhammad saw.

"Sesungguhnya orang-orang yang membagi agama mereka, sehingga menjadi beberapa golongan yang berpisah-pisah, bukanlah engkau (Muhammad) dari (golongan) mereka tentang sesuatu apapun." (Al An'am 159).

Ini tafarruq dan sebab-sebab tafarruq.

Bukan lantaran adanya ikhtilaf, bukan lantaran adanya da'wah. Tetapi akibat dari turut campurnya hawa nafsu dalam da'wah. Akibat menyelinapnya sifat ananiyah, dengan rentetan anak cucunya ke dalam pribadi pembawa da'wah. Ringkasnya akibat pembawa da'wah ketinggalan akhlaq.

Dalam keadaan yang semacam itu, bagaimana pula dia akan mampu menebarkan benih akhlaq di kalangan umat sekitarnya? Dan kalau para penuntun beserta para pengikut sudah sama-sama ketinggalan yang satu itu, sedangkan hawa nafsu sudah memegang kendali, tafarruq apakah yang takkan bisa terjadi sesudah itu?

Segala macam akan bisa terjadi, dalam keadaan itu, walaupun ilmu masing-masing sudah menerawang langit:

"Maka sudahkah engkau perhatikan (keadaan) orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah biarkan dia sesat, padahal ia tahu (bagaimana yang semestinya)" (Al Jatsiah 23).

Segala macam akan bisa tersua, kecuali kalimatullah hiyal ulya, dan pembinaan umat atas dasar kalimah itu. Oleh karena itu akhlaq adalah soko guru bagi pembangunan umat. Rasulullah saw sendiri pernah menyimpulkan tujuan seluruh Risalahnya dengan:

"Sesungguhnya aku tidak diutus, melainkan untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia."

Risalah keseluruhannya ditujukan kepada penyempurnaan akhlaq yang mulia. Bagaimana akan melanjutkan Risalah itu dengan da'wah tanpa akhlaq pada sisi orang yang membawakan da'wah itu!

Tanpa akhlaqul karimah tak aka nada uswah yang baik, tak aka nada lisanul hal yang menarik, tak aka nada hajrun jamil, cara perpisahan yang indah, tak akan ada qaulan sadid, kata yang lurus dan tepat, keluar dari hati yang murni, tak aka nada mawaddah fil qurba, hubungan rasa ikhlas mesra dan dengan demikian, tak aka nada hikmah.

Yang akan mungkin ada hanyalah kecerdikan mempesona orang banyak, hampa dari jiwa iman dan taqwa. Dan dengan demikian yang akan mungkin ada pula, ialah semacam hiburan untuk umum, selama yang berpidato berdiri di atas mimbar, sebagaimana hiburan yang dapat dihidangkan oleh sandiwara komisi stambul, selama para pelakon bermain di atas panggung, sebelum layar diturunkan.

Tetapi bukan da'wah bilhikmah, bukan da'wah lilLah.

Akhlaqul karimah adalah tiang tengahnya da'wah.

Tidaklah pula suatu masyarakat itu menuntut supaya mubalighnya harus seperti malaikat. Mereka pun maklum bahwa mubaligh mereka bukan seorang Nabi yang ma'shum.

Yang diharapkan mereka ialah, supaya penuntun mereka itu memeloporimereka dalam perbuatan, untuk menegakkan amar makruf, yang dianjurkannya: mendahului mereka dalam menjauhkan diri dari kemungkaran yang disuruh jauhinya, mendahului mereka dalam menegakkan akhlaq dan moral yang tinggi.

Menegur Allah SWT dalam Al Qur'anul Karim:

"Adakah (patut) kamu menyuruh manusia berbuat kebaikan, padahal kamu lupakan diri kamu (sendiri), sedangkan kamu membawa kitab (agama kamu)? Kalau begitu apakah kamu tidak mau mengerti?" (Al Baqarah 44).

Yakni apakah kamu tidak mengerti, bagaimana seharusnya menjalankan tugasmu?

Diperingatkan pula selanjutnya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Kenapakah kamu berkata apa-apa yang tidak kamu kerjakan? Besar kemurkaan di sisi Allah, lantaran kamu berkata apa yang kamu tidak kerjakan." (as Shaff 2-3).

Yakni bila kamu tidak kerjakan bermacam kebaikan yang kamu sebut-sebut (anjur-anjurkan).

Nyatalah bahwa belumlah cukup, bila seorang pembawa da'wah baru hanya membawakan ilmu, dan membawakan hikmah dalam arti cara-cara mempergunakan ilmu itu.

Berdoa Nabi Allah Ibrahim as:

 "Wahai Tuhan Kami! Dan bangkitkan diantara mereka itu seorang Rasul dari (kaum) mereka, yang membacakan kepada mereka firmanMu dan mengajarkan kepada mereka Kitab itu, dan hikmah, dan membersihkan mereka, karena sesungguhnya Engkaulah Yang Gagah, Maha Bijaksana." (al Baqarah 129).

Doa Nabi Allah Ibrahim as telah terkabul dengan diutusnya Rasulullah, Muhammad saw yang membawakan kepada umatnya: ilmu (kitab), hikmah dan tazkiyah, pembersih rohani yang memancarkan akhlaqul karimah.

Maka kita berdoa kepada Allah Yang Maha Karim, semoga umat kita ini, senantiasa dikaruniai Ilahi, para pembawa da'wah yang selaku ahli waris Nabi-Nabi, memiliki ketiga-tiga unsur Risalah itu pada diri mereka: ilmu, hikmah, tazkiyatun nafs, dalam kadar setinggi mungkin yang dapat mereka miliki sebagai manusia mu'min yang mukhlish sehingga mereka sanggup menebarkan benih-benih tersebut, sebagai penawar hidup, ke dalam tubuh Umat Islam, dari masa ke masa! Amin! * (Dikutip dari buku Mohammad Natsir, Fiqhud Da'wah, Yayasan Capita Selecta dan Media Da'wah, 2008).n.

 

 

[1] Qisthasul Mustaqim, Tafsir Muhammad Abduh, jilid 3, 15.

[i] Imam Malik bin Anas, rela dihukum pukul, daripada melepaskan pendirian yang diyakininya. Imam Ahmad bin Hambal, dirantai oleh penguasa negara, Khalifah Ma'mun, lantaran tidak mau menurut perintah untuk merngubah pendiriannya mengenai suatu masalah aqidah (tentang hadits atau qadimnya Qur'an). Imam Abu Hanifah dipenjarakan oleh Khalifah al Mansur, lantaran tidak mau diangkat menjadi Qadhi. Beliau wafat dalam penjara.

[1] Shuwarun min Hayatir Rasul, Amien Dwaidar. Andaikata Heraclius sampai bertemu dengan Rasulullah saw, tentulah dia tidak akan dibiarkan memberi penghormatan semacam itu, satu perhormatan antara sesama manusia, yang walau bagaimanapun tidak dibenarkan oleh Islam.

[2] Sebagaimana diketahui, di waktu melihat bahwa para pembesar Romawi di kalangan istana menentang sikapnya itu, Heraclius khawatir akan kehilangan kekuasaannya lalu dia mundur. Tapi surat Rasulullah saw disimpannya baik-baik, tidak dirobeknya, sebagaimana dituntut oleh pembesar-pembesar istananya. Haus kepada kekuasaan duniawi juga menabirnya dari kebenaran yang sudah tampak olehnya, sebagaimana juga ketakutan dan ejekan dan cemooh orang telah menghambat Abu Thalib paman Rasulullah, untuk menerima seruan Muhammad saw. Meskipun demikian kekuasaan Heraclius tidak urung berkurang jua justru lantaran sikap yang maju mundur itu. Kaisar Najasyi yang sudah masuk Islam dengan yakin melepaskan diri dari kekuasannya, dan menghentikan pembayaran upeti kepada kerajaan Romawi. Tatkala Heraclius ditanya kenapa dia tidak bertindak terhadap Kaisar Najasyi, dia menjawab: "Seseorang menghajatkan agama, lalu dia pilih mana yang cocok. Demi Allah kalaulah tidak hendak tetap memegang kerajaanku, pasti aku akan berbuat seperti yang dilakukan oleh Najasyi." (Zaadul Maad III). Dalam pada itu apa yang diamalkan oleh Heraclius menjadi kenyataan juga. Islam berkembang juga sampai ke bumi yang pernah berada di bawah telapak kakinya itu (Syam), dan lebih luas lagi dari itu.

Kehidupan Dunia Ibarat Panggung Audisi, Seleksi Yang Terbaik



Sekarang ini dalam keseharian kita disuguhi banyak sekali acara pencari bakat di televisi. Mulai dari A sampe ke Z, ada semua. Semua konsep acara itu, tentunya satu, mencari bakat-bakat dari anak-anak muda yang teramat ingin eksis di dunia ini. Semua orang berjejal, dari yang muda sampai kepada yang tua. Mereka berjubel-jubel untuk antri, yang antriannya itu sampai mengekor ratusan meter, dengan hanya satu tujuan yaitu ingin menjadi artis terkenal, bisa disorot kamera dan tentunya bisa muncul di kotak yang bernama “Televisi”.Mereka rela berjam-jam mengantri dengan beragam dandanan yang aneh-aneh, dengan acuan fashion masa kini yang mereka lihat dari gaya artis-artis barat sana. Mereka dengan ikhlas dan rela meninggalkan waktu makannya demi mengikuti audisi. Bahkan tak jarang ada yang dengan sukarela meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim, memenuhi panggilan sayang dan cinta dari Sang Pemilik Sayang dan Cinta Sejati.

Padahal, tanpa disadari, kita semua adalah artis yang sangat terkenal. Setiap hari, bahkan setiap detik, kita di shoot oleh Cameraman yang super ulet dan teliti dengan menggunakan kamera yang super duper canggih dengan sutradara yang Maha Dahsyat. Manakala kita sendiri dan merasa tak ada yang mengawasi, kamera itu terus merekam setiap adegan yang kita buat. Film kita tinggal menunggu waktu untuk diputar.Nah saat waktu itu tiba, film kita pun akan ditonton seluruh ummat manusia mulai dari jaman Adam sampai nanti zaman akhir. Jadi sebenarnya kita adalah seorang aktris, yang kelak akan mendapatkan penghargaan berupa surgaNya ataukah nerakaNya.

Sekarang, tinggal bagaimana kita menjalankan setiap instruksi dari sutradara dengan baik. Ingat, seorang artis yang sangat berpengalaman saja bisa kena damprat sutradara manakala dia tidak profesional dan tidak menjalankan skenario sesuai arahan sutradara. Dia bisa saja kena marah sampai dipecat. Itu baru kejadian di dunia dan sesama manusia. Bagaimana bila berhadapan dengan Sang Sutradara sesungguhnya?  Ya, hal itu bisa berwujud cobaan, ujian, bahkan azab and finally berupa surgaNya atau nerakaNya. Jadi sebenarnya, kita semua adalah seorang artis di dunia yang fana ini, dunia yang penuh tipu daya. Karena memang dunia ini penuh dengan fatamorgana yang menyilaukan. Jadi, kita seharusnya mengikuti seluruh instruksi Sutradara karena kita sudah punya skenario yang berupa Al Qur’an dan Hadist. Sekali lagi, ingatlah bahwasa kita adalah seorang artis yang senantiasa dipantau dengan kamera yang super duper canggihnya.

Semoga kita semua bisa menjadi artis yang profesional dan bisa melaksanakan setiap instruksi dan arahan sutradara yang telah tertulis dalam skenarionya hingga kita dapatkan penghargaan berupa surgaNya kelak.

Insya Allah.

Oleh : masjid al amanah