Jumat, 27 Januari 2012

HIDUP MEMANG BUTUH PENGORBANAN



 Oleh : admin www.ashabul-muslimin.xyz

Ada pepatah “cinta butuh pengorbanan, tak ada pengorbanan cintapun luntur”. Mungkin karena “cinta” kita kepada sesuatu / seseorang entah itu anak dan istri atau yang lainnyamembuat kita berkorban tanpa pamrih, misalnya kerja siang malam tidak mengenal kelelahan yang penting anak dan istri kenyang, kita habiskan biaya berjuta-juta untuk menyekolahkan anak supaya jadi pengusaha sukses dsb. Namun bagaimana dengan cinta kita dan pengorbanan kita kepada Islam, apakah malah terabaikan sama sekali karena terlalu sibuk dengan urusan duniawinya?. Jika kita berpikir kedepan justru yang akan menyelamatkan kita baik didunia maupun kehidupan akhirat adalah seberapa besar kepedulian dan pengorbanan kita kepada agama. Sungguh dunia ini telah membuat banyak orag tertipu, berlomba-lomba mencari harta dan jabatan akan tetapi akhirat lalai. Anak kita, istri kita, keluarga kita, teman apalagi cuman pacar lalu harta, pangkat dan jabatan tak akan menolong kita sedikitpun nanti sesudah datang hari pembalasan kecuali jika kita gunakan untuk berkorban demi agama demi kemaslahatan umat islam demi kedamaian dibawah naungan Allah SWT. Dan benar-benar merugilah orang yang sibuk mengejar dunia tapi hanya untuk menumpuk-numpuk harta dan berbangga-bangga dengan kekayaan dan jabatan mereka karena pada hari kiamat nanti justru akan jadi api yang membakarnya.

Jika kita perhatikan masyarakat dewasa ini sungguh sangat berbeda dengan masyarkat islam jaman dahulu. Dijaman ini orang berlomba-lomba mencari harta tapi terhadap agamanya masa bodoh tidak peduli dengan umat islam yang lain aliasnya penyakit berbahaya yaitu egoisme dan individualisme sudah berkarat dihati masyarakat muslim sekarang ini, inilah yang menyebabkan keterpurukan umat islam dewasa ini. Dimana-mana kemiskinan umat Islam dan penderitaan umat islam terkadang tidak membuat kita yang kaya harta tergerak untuk menolong mereka meski hanya sesuap nasi, mungkinkah hati kita yang terlalu keras karena terlalu tersibukan oleh pekerjaan duniawi sehingga melalaikan kehidupan abadi. Jika kita ambil kisah teladan dari masa lalu. Dahulu ada seorang sahabat bernama Abdullah Ibnu Umar. Di usianya yang menginjak 13 tahun, sudah ingin ikut berjihad bersama Rasulullah saw. Beliau bersama sahabatnya yang bernama al-Barra’ ngotot ingin berperang bersama pasukan Rasulullah saw. dalam perang Badar. Namun oleh Rasulullah saw. ditolak karena masih kecil. Tahun berikutnya pada perang Uhud, beliau tetap ditolak. Hanya al-Barra’ yang boleh ikut. Barulah keinginannya yang tak tertahankan itu terpenuhi pada saat perang Ahzab, Rasulullah saw. memasukkannya ke dalam pasukan kaum muslimin yang akan memerangi kaum musyrikin. Subhanallah!

Kita butuh latihan untuk menjadi seorang Abdullah bin Umar. Pertama yang perlu kita lakukan adalah berlatih untuk mengendalikan nafsu. Nafsu inilah yang selalu membuat kita egois. Berpikir kepentingan sendiri. Selama kita egois, maka kita akan susah untuk berkorban. Hawa nafsu hampir selalu sukses menggoda manusia yang lemah iman. Menyeret mereka ke dalam ruang maksiat karena tidak mendapatkan petunjuk dari Allah Swt. Benarlah firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS al-Qashash [28]: 50)

Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jaatsiyah [45]: 23)

BERLATIHLAH MEMPUNYAI SIFAT KEPEDULIAN

 
Memang sifat peduli sangat jarang kita jumpai dalam masyarakat dewasa ini, padahal tanpa sifat ini  tak mungkin akan menemukan kedamaian yang sejati. kita butuh banyak belajar, diantara yang perlu diperhatikan untuk membuat kita mempunyai sifat peduli adalah :

A.    Pertama, Latihlah Hawa nafsu,
Hawa nafsu / syahwat  adalah bagian yang perlu dikelola dengan benar. Memang, kita harus menyadari juga bahwa hawa nafsu tidak bisa dimatikan. Hawa nafsu hanya bisa diredam atau dikendalikan. Tentu saja, diredam atau dikendalikan dengan ajaran Islam. Bukan yang lain. Karena hanya Allah Swt. yang tahu betul karakter manusia. Itu sebabnya, permintaan Allah Swt. kepada manusia agar manusia taat kepadaNya, justru untuk keselamatan manusia itu sendiri. Untuk bisa meredam nafsu, tentu saja diperlukan pengorbanan untuk meninggalkan hal-hal yang menurut hawa nafsu sangat enak dan nikmat jika dilakukan.

B.   Kedua, Mencoba berkorban dari yang kecil.

 
Segala yang besar dimulai dari yang kecil. Cobalah untuk berkorabn sedikit demi sedikit. Berkorban tenaga, waktu dan kesempatan untuk Islam. Kemudian meningkat dengan berkorban harta. Karena diri kita ini perlu untuk dididik. Apalagi jiwa yang kita miliki, biasanya akan cenderung kepada nafsu. Maka harus selalu dijaga dan diarahkan menuju kepada kebaikan.

C.   Ketiga, Ingatlah Allah, kematian dan hari akhir 

Mengingat Allah dan mengingat bahwa hidup ini akan berakhir tidak selamanya kita tersibukan oleh pekerjaan dunia akan membuat kita lebih semangat untuk beramal dan ikhlas berkorban / menolong kepada sesama muslim. Kita harus menyadari bahwa ajal tidak pandang bulu dalam menjemput kita dan tidak menentu kapan waktunya bisa nanti atau besok atau besoknya lagi yang pasti hanya Allah Yang Mengetahui, jika kita menunda-nunda amal dengan alasan kita masih sehat bugar umur masih panjang sungguh kita termasuk orang yang tertipu setan. Ingatlah harta, pangkat, jabatan tidak kita bawa tak sedikitpun menemani kita dialam kubur kecuali jika digunakan untuk beramal dijalan-Nya.

Terlibatlah dalam urusan kaum muslimin. Ringankanlah beban mereka. Cobalah untuk melakukan sesuatu dimana kamu sangat bermanfaat di bidang itu. Jangan sungkan, jangan ragu atau malu. Inilah saatnya, Islam menunggu kiprah besar darimu. 


Wallahu 'alam

Berbagai sumber dan penulisan

Jumat, 20 Januari 2012

Syair Muslimin : "NASIB REMAJA AKHIR ZAMAN"



"NASIB REMAJA AKHIR ZAMAN"

akankah lahir generasi manja,
generasi yang hina
sukanya berhura-hura dan berpesta pora,
tidak mau mengenal derita,
tak mengenal kepedulian kepada sesama
tak patuh kepada gurunya
durhaka kepada orang tua
Ingkar kepada aturan Yang Kuasa

pemikiran mereka
lahir kedunia disambut suka cita
kecilnya dimanja
pada saat remaja waktunya foya-foya
nanti tua kaya raya
punya istri banyak cantik semua
mati masuk surga
tapi kenyataannya
hanya syahwat semata
yang diagung-agungkan mereka

apakah mereka sudah gila
hingga berpikiran hina
apakah mereka telah terpedaya
oleh kesenangan dunia
sadarlah wahai kawan semua
setan itu musuh kita
jangan kau ikuti jejak mereka
karena mereka penghuni neraka

wahai kawan, akan ini dibiarkan saja
tanpa ada usaha
mencari solusinya
kalau begitu nantikan kiamatnya dunia
nantikanlah hari pembalasannya
dimana semua manusia
waktu itu tertunduk hina
menantikan keputusan-Nya
kemudian akan dilemparkan kedalam neraka
sebagai balasan setimpal waktu didunia
selalu berbuat dosa dengan bangga
dan selalu menyakiti kepada sesama manusia

kecuali mereka yang bertakwa
mereka berwajah gembira
karena didunia
selalu beramal mulia
dan insya Allah Surga balasannya
disana mendapatkan kenikmatan tiada tara
dan istri bidadari yang cantik jelita
satu lagi bonus besarnya
yaitu bisa melihat Tuhannya


[#by : http://ashabul-muslimin.tk #]

Rabu, 18 Januari 2012

Meningkatnya Kerusakan Moral Dizaman Globalisasi

بسم الله الرحمن الرحيم

 Meningkatnya Kerusakan Moral / "Kenakalan Remaja"diZaman Globalisasi

Oleh : Ust. Musliadi, S.Sos.I (Guru SMPIT Binaaul Ummah – Tambun Selatan)
 

Dahulu generasi Islam semakin jaya dan maju seperti yang terjadi pada generasi Islam pada masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang mulia berbeda dengan generasi muda Islam zaman ini yang semakin lama justru semakin terpuruk dan semakin diolok-olok dan ditindas oleh orang kafir. Dari hal diatas penulis tergerak untuk menulis sebuah pemikiran dan kajian penting tentang penyebab semakin terpuruknya generasi Islam zaman ini yaitu salah satu faktornya adalah kerusakan moral penyebabnya tidak lain karena kurangnya perhatian guru pengajaran ilmu pergaulan dan adab-adab  pergaulan Islami dan kurangnya pendidikan Ilmu Agama yang mapan baik itu dilingkungan rumah maupun sekolah si anak didik. Mungkin penyebabnya sekolah atau orang tua berambisi supaya anak-anak didiknya supaya dapat meraih cita-cita duniawinya setinggi mungkin akan tetapi justru malah melupakan cita-cita kehidupan akhirat, sehingga dampaknya bisa kita lihat sendiri baik secara langsung maupun dari berbagai media massa berbagai “kenakalan remaja” kita dengar dan kita lihat dari prilaku tawuran sampai kehamilan diluar nikah, dan tokoh utamanya diperankan oleh Remaja. Naudzubillah  

Akhir-akhir ini di beberapa media masa, sering kita membaca tentang perbuatan kriminalitas yang tejadi di negeri yang kita cintai ini. Ada orang tua kandung yang tega meniduri anaknya sendiri, ada seorang anak yang meniduri ibu kandungnya sendiri, ada siswa yang tega menganiaya temanya dan masih banyak lagi kriminalitas yang terjadi di negeri ini.  Kerusakan moral sudah merebak di seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa serta orang yang sudah lanjut usia. Semua kalangan tidak mau disalahkan, pemerintah menyatakan diri telah berusaha memperbaiki dekadensi moral ini dengan berbagai program yang hanya tertulis dalam kertas-kertas, ulama’ menyatakan diri sama dengan pemerintah telah melakukan berbagai usaha untuk memperbaikinya, berbagai organisasi dan gerakan dideklarasikan tetapi hanya sebatas wacana belaka kenyataannya tetap saja moral negeri ini tidak bisa diperbaiki.

Lantas jika semuanya merasa telah berbuat kenapa semua ini masih saja terjadi? Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah pemerintahan yang memiliki kuasa yang bersalah? atau para ulama’ ? saya rasa terlalu sempit pemikiran kita jika kita hanya menyalahkan pemerintah atau ulama’. Semua kita bertanggung-jawab atas dekadensi moral yang terjadi di negeri ini, kita adalah orang-orang yang akan bertanggung-jawab atas musibah moral ini. Pada kesempatan ini, saya akan mengajak teman-teman semuanya untuk lebih memahami posisi kita sebagai remaja Muslim. Ada banyak kriminalitas remaja yang sangat memiris hati

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KENAKALAN REMAJA

Ada banyak faktor yang menyebabkan kenakalan ini terjadi, setidaknya ada tiga faktor yang mempegaruhi prilaku seorang anak remaja.

Pertama, faktor lingkungan

Lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi prilaku dan watak anak, jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk maka akhlanyapun akan seperti itu adanya sebaliknya jika dia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula. Rasulullah Saw. bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda : seseorang itu atas din saudaranya. Maka lihatlah salah seorang diantara kalian, siapa yang ditemani. (HR. Ahmad)

Kedua,pedidikan dan pembinaan dari orang tua.

Rasulullah Saw. bersabda :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi.” (HR. Imam Bukhari)



Orang tua adalah orang yang paling bertanggung-jawab dengan akhlak dan prilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah faktor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik.

Ketiga, Pemerintahan dalam hal ini yang lebih spesfiknya adalah lembaga pendidikan atau sekolah.

Sekolah yang kita lihat hari ini jarang yang mendidik untuk menjadi orang yang bertaqwa, padahal Tujuan Pendidikan Nasional adalah membentuk siswa yang beriman dan bertqwa serta berkhlaq mulia. Mereka hanya mengajarkan ilmu-ilmu dunia dan tidak mengajarkan ilmu-ilmu agama. Maka sangat penting bagi para orang tua untuk memilihkan lingkungan sekolah yang baik untuk anak-anaknya.


SEKELUMIT SOLUSI

Dari berbagai permasalahan yang terjadi dikalangan remaja masa kini, maka tentunya ada beberapa solusi yang saya tawarkan dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini.

Pertama, membentuk lingkungan yang baik.

Sebagaimana disebutkan di atas lingkungan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi prilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang sholeh, memilih teman yang dekat dengan sang Khalik dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita lakuakan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakuakan hal yang negative akan sedikit berkurang.

Kedua, Pembinaan dalam Keluarga.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak, jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap malakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.

Ketiga, Peningkatan Pendidikan Agama diSekolah

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sekolah untuk memulai perbaikan remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli kemanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan dalam memperbaiki kenakalan yang terjadi saat ini. Semuanya adalah tanggung jawab kita, orang bijak tidak meyalahkan keadaan tetapi mecari solusi untuk mengahadapi kenyataan. Marilah kita bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk memperbaiki masa depan generasi kita, karena hitam dan putih bangsa ini ada di tangan mereka semua. Jika kita tidak memulai dari sekarang dan dari kita sendiri, maka siapa lagi yang akan memulai dan memperbaikinya. Tidak ada lagi kata untuk saling menyalahkan. Untuk memulai perbaikan ini butuh keseriusan semua pihak. Marilah kita sama-sama serius untuk memperbaiki masa depan bangsa ini. Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. Marilah kita memulai tidak hanya dengan bermimpi tetapi dengan usaha yang nyata.

Yang terakhir / kelima, Hanya kepada Allah SWT kita berdo’a dan kita bertawakal

Karena sudah jelas segalanya tidak akan mudah tercapai dan bisa malah gagal dalam melakukan berbagai macam sesuatu usaha perbaikan umat ini kecuali jika Allah SWT menghendaki karena tiada daya dan upaya melainkan hanyalah pertolongan dari-Nya. Setelah kita berdo’a supaya usaha kita berhasil dan tidak lupa semakin giat dan berusaha keras melakukan perbaikan dimulai dari yang terkecil yaitu masalah kedisiplinan dirumah misalnya menggencarkan gerakan  tertib sholat lima waktu dirumah dengan demikian segala sesuatu yang kecil maka dengan pertolongan Allah maka Insya Allah kita bisa maju dan berjaya sebagaimana yang dialami generasi umat Islam terdahulu.

Sekian yang dapat saya sampaikan semoga memberikan manfaat, mohon maaf atas kesalahan, atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Wallahu 'Alam

Selasa, 17 Januari 2012

Kesalahan-Kesalahan Dalam Pendidikan Anak

penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc
Mukadimah Hadits :
sabda Rasulullah SAW :

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ


"Perintahkanlah anak-anakmu shalat pada usia 7 tahun. Pukullah mereka pada usia 10 tahun, dan pisahkan juga mereka dari tempat tidur mereka (Sunan Abi Dawud kitab as-shalat bab mata yu`marul-ghulam bis-shalat no. 495. Hadits hasan shahih [al-Albani]).

 

Hadits ini menjelaskan akan pentingnya orang tua supaya memperhatikan pendidikan anak usia dini paling utamanya adalah mendidik anak-anak shalat dan yang lainnya adalah mengajari ilmu lainnya seperti ilmu hitung dan tulis menulis. Tidak tepat juga dipahami bahwa mendidik anak itu dimulai pada usia sekolah di sekolah mereka; bahwa mendidik anak itu tanggung jawab guru dan sekolah karena hanya merekalah yang mempunyai skill pendidikan. Sebab Islam justru menyatakan bahwa setiap orangtua haruslah rabbayani shaghiran; mendidik, mengurus, mengasuh, menanamkan nilai-nilai rabbaniyah kepada anak dari sejak kecil. Semua orangtua dengan demikian dituntut untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Mendidik anak ibadah, hanya mendekati yang halal, menjauhi yang haram, beraqidah yang benar, dan berakhlaq mulia, tidak mensyaratkan harus sekolah tinggi atau kuliah di perguruan tinggi. Mendidik anak dalam hal-hal yang fardlu ‘ain sebagaimana disebutkan itu merupakan kewajiban dan kemampuan yang sudah semestinya dimiliki oleh semua orangtua yang mengharapkan anak sholeh yang berbakti dan mendo’akannya.

Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam. Karena diharapkan anak tidak mahir ilmu keduniaan saja akan tetapi lebih penting adalah mengetahui dan mengenal agamanya.

Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.

KESALAHAN DALAM PENDIDIKAN ANAK

Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:

1. Salah Tujuan

Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.
Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas banyak orang awam. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama dicampakkan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang ikhtilat,
banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas, dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinahan merajalela.

2. Salah Sekolahan
Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren, tanpa peduli apakah pesantren itu penuh bid’ah atau tidak, dan apakah akidah dan akhlak para santri benar-benar terkontrol.
Harus diakui, saat ini masih ada sekolah Islam yang di situ bercampur-baur antara pelajar laki-laki dengan perempuan, atau kurang memperhatikan sistem pengajarannya, sehingga bercampur antara pelajaran yang syar’i dan bid’ah, bahkan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang anak. Kelak, ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang
menyimpang dari syariat Islam.
3. Salah Teladan
Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.

4. Salah Metode Pendidikan
Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.

5. Motivasi yang Kurang Tepat
Kesalahan orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan merusak watak dan pribadi anak, karena anak terdorong bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu bukan karena Allah, melainkan karena ingin berprestasi dan mendapat hadiah yang menggiurkan.
Parahnya lagi, hanya untuk mengejar hadiah yang dijanjikan, si anak bisa saja menghalalkan segala cara, dengan mencontek atau berbuat curang lainnya, yang penting hadiah didapat.
 
Alhasil, bila dia tidak bisa berprestasi, maka dia akan menjadi orang yang frustasi dan malas belajar, sedangkan pada anak yang didorong agar tidak tersaingi oleh teman-temannya akan timbul sifat angkuh, sombong dan egois. Dan anak yang dimotivasi agar bangga dengan prestasi yang dicapainya, tumbuh menjadi anak yang tidak pandai bersyukur kepada Allah; ia hanya bersemangat menuntut ilmu, tapi kehilangan kendali bila gagal.

6. Membatasi Kreativitas Anak
Ada sebagian orangtua yang membatasi, memaksa dan selalu menentukan kreativitas anak. Ini akan mengekang bakat anak, membuat anak kurang percaya diri, tidak pandai bergaul, dan cenderung memisahkan diri dari teman-temannya. Seharusnya orangtua mengarahkan, membimbing, mendorong dan memberi fasilitas agar anak mengembangkan kreativitasnya sepanjang kreativitas itu tidak melanggar syariat, tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan bermanfaat untuk diri maupun agamanya. Anak yang merasa didukung kreativitasnya akan tumbuh dengan kepala yang penuh ide cemerlang dan menjadi orang yang bertanggung jawab, sekaligus menjadi anak yang bangga dengan orang-tuanya.

7.  Membatasi Pergaulan
Kadang, karena tidak ingin anak terpengaruh oleh perilaku buruk teman bergaulnya, orangtua bertindak sangat protektif terhadap anaknya. Bahkan, anak tak boleh “nimbrung” jika orang tuanya sedang menerima tamu. Atau, anak hanya diperbolehkan bergaul dengan teman-teman tertentu yang belum tentu shalih, tapi justru dilarang mendekati temannya yang shalih, paham As-Sunnah dan rajin beribadah.

Sikap orangtua seperti di atas membuat anak menjadi pemalu dan tidak pandai bergaul, atau akan membuat anak mudah merendahkan orang lain yang dianggap tidak selevel dengannya.
Orangtua bijaksana akan mengawasi pergaulan anak-anaknya, tanpa terlalu membatasi tapi juga tidak membiarkan anak bergaul bebas. Orangtua harus selalu mengingatkan dan memantau agar anak bergaul dengan orang-orang shalih, yang paham As-Sunnah, rajin beribadah dan berakhlak mulia serta teman-teman yang bisa memotivasinya menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, agama, orang tua dan orang di sekitarnya.

8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib
Ketidakdisiplinan dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih untuk membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid (bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati perintah orangtua dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.
Setiap orangtua atau pendidik hendaknya membuatkan jadwal rutin harian, yang berkaitan dengan ibadah, tugas harian maupun tugas sekolah, dan orangtua harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya jangan sampai ada yang terlewatkan.

9. Hanya Pendidikan Formal
Sebagian orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar. Padahal, kebanyakan lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa memedulikan kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari pendidikan formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan hidup. Sebab, kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya melalui madrasah saja.
Dengan kata lain, setiap anak harus membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan realitas hidup, perkembangan teknologi, bisnis, informasi, komunikasi, situasi terkini, dunia tumbuhan dan binatang.

Dan untuk itu, orangtua haruslah aktif dan selektif dalam memilihkan bacaan, yaitu memilihkan bacaan yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karenanya, pendidikan non formal, terutama pendidikan agama mutlak diperlukan, karena dengan pendidikan inilah si anak akan dapat menyaring, mana ilmu teknologi, bisnis, komunikasi, dan segala hal yang bermanfaat atau justru berpotensi merusak akidah maupun akhlak seseorang.

10. Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab
Orangtua harus menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi pada anak-anaknya akan tugas dan kewajiban mereka, baik yang terkait dengan urusan agama maupun dunia. Masing-masing harus merasa bahwa tugas sekecil apa pun merupakan amanah yang harus diemban dan beban tanggung jawab yang harus dipikul sepenuh kemampuan. Anak harus dilatih untuk lebih dahulu menunaikan kewajiban dari pada menuntut haknya baik hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun kepada sesama manusia terutama kepada orangtua, sanak-kerabat dan teman-temannya.

Orangtua harus mengenalkan kepada anak-anaknya tanggung jawab kepada agama, diri, dan lingkungannya. Bahkan anak harus dikenalkan pada kewajiban zakat, infak dan sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin agar tumbuh rasa tanggung jawab dan sensitivitasnya pada agama dan lingkungan, baik lingkungan rumah maupun sekolah.

11. Khawatir yang Berlebihan
 
Perasaan takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban biaya hidup anaknya tidak terpenuhi, dan mencintai anak secara berlebihan.Ketakutan seperti itu hanya akan membuat hidup terbebani, tidak percaya dengan takdir, dan mengurangi ketawakalannya kepada Allah. Yang ada nanti hanya perasaan tidak tenang dan khawatir terhadap nasib anaknya. Inilah yang kadang membuat orangtua tidak tega saat melepas anaknya menempuh pendidikan boarding school (pondok) di pesantren. Padahal, setiap orangtua harus menyadari bahwa suatu saat nanti anak akan berpisah dengannya, baik untuk mencari ilmu atau mencari pekerjaan untuk menghidupi keluarganya setelah menikah kelak.

12. Kurang Sabar dalam Menerima Hasil
Bisa jadi orangtua sudah punya target-target tertentu atas pendidikan anaknya, atau boleh jadi orangtua telah mendidik anaknya untuk mengganti jabatannya atau memegang perusahaannya setelah  dia meninggal. Namun, ternyata sang anak mengecewakannya. Bukan karena ia nakal dan membangkang, melainkan karena bakat sang anak tidak sejalan dengan keinginan dan harapan orangtuanya. Akhirnya, kita dengar orang tua mencerca anaknya, “Tinggal belajar saja kok tidak bisa. Makanya, belajar yang betul!”

Padahal, kita semua sadar bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kecerdasan dan kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Seharusnya orang tua bersikap bijak.  Kewajiban orangtua hanyalah berusaha semaksimal mungkin mengarahkan dan membina anak-anaknya, sedangkan hasilnya, Allah Maha Adil dan Maha Tahu apa yang tetbaik bagi hamba-Nya. Jadi, kenapa orangtua harus kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya?  Bukankah lebih baik mengutamakan kesabaran dan keistikomahan dalam mendidik dan mengarahkan anak, daripada terpaku pada hasil akhirnya?

13. Curiga Berlebihan
Orang tua harus bersikap terbuka dan memberi kepercayaan kepada anak. Sikap ini akan memperlancar komunikasi dan interaksi dengan anak maupun anggota keluarga yang lain.  Keterbukaan dan kepercayaan juga akan membuat anak mencintai orangtuanya secara tulus dan memandang penuh hormat dan kasih pada keduanya. Sebaliknya, bila orang tua mudah menuduh
tanpa bukti, mencurigai setiap gerak-gerik anak tanpa alasan dan menganggap anak berkhianat kepada orangtuanya, perasaan anak akan tercabik-cabik, kekecewaan tumbuh, dan kemarahan anak kepada orangtua akan tersulut. Apalagi bila anak merasa apa yang dituduhkan kepadanya tidak benar.

Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam menilai anak-anaknya. Jangan mudah curiga dan menuduh anak dengan sesuatu tanpa alasan dan bukti hanya karena kurang cinta atau cemburu. Orang tua juga tidak boleh meremehkan kemampuan dan kelebihan anak dengan menganggapnya masih terlalu kecil.
Di pihak lain, sang anak pun tak boleh mudah memvonis orangtuanya tidak sayang dan membencinya. Seharusnya seorang anak bersabar menghadapi sikap orang tua yang kurang berkenan dan sebaiknya mencari informasi yang sebenarnya kenapa orangtuanya bersikap demikian, dan menghilangkan dendam kepada orangtua karena sikapnya tersebut. Sebab, dendam yang dibiarkan bisa memutus hubungan silaturahim. Maka, pupuklah sikap saling percaya,  tumbuhkan empati, dan sikap terbuka dalam menghadapi setiap masalah.

14. Menjauhkan Anak dari Orang Shalih
Kalau tidak bergaul dengan ulama atau orang shalih, pasti kita akan bergaul dengan orang-orang bodoh dan ahli maksiat. Kedekatan dengan para ulama dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada kebaikan, amal shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan orang-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular kebaikannya. Dan siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau hidup di lingkungan yang buruk, akan pula terkena getah keburukannya.

Wahai anak shalih yang mendambakan surga, jangan biarkan dirimu bergaul dengan orang buruk berhati serigala, orang munafik, orang fasik dan ahli bid’ah perusak agama. Ingat, orang yang baik akan dikumpulkan bersama orang baik dan orang yang buruk akan berkumpul dengan orang yang buruk. Dan pada Hari Kiamat kelak, seseorang dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.
dari buku:

judul: “Untukmu Anak Shalih”
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc
penerbit: rumah penerbit al-manar
halaman: 42-45
Refrensi : http:// www.Jilbab.or.id